Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2010

Siti, Simbok, dan Presiden


“Mbok, kenapa ya kita nggak bisa kaya? Padahal kita kan wis berjuang…” Siti mengeluhkan kondisinya yang tak juga berkecukupan.
“Ya sabar, to Nduk…” simboknya yang sudah sakit-sakitan menimpali.
“Kapan, ya Mbok Pak Presiden ke desa kita ngasih bantuan?” Siti kembali bertanya sembari menyusun sayuran di atas tampah.
Simbok menoleh ke arah Siti, “Nggak usah mimpi muluk-muluk to Nduk, Pak Presiden nggak mungkin ke desa kita. Lha wong duit rakyat dimakan presiden sendiri kok!”
Siti, gadis kecil berumur sepuluh tahun itu terdiam mendengar kata-kata Simbok. Ia melanjutkan mengulek sambal pecel untuk melengkapi dagangan simbok di warteg pinggir desa. Siti, anak malang yang tak bisa hidup layaknya anak-anak seumurannya. Ia tak punya kesempatan bersekolah, apalagi bermain. Hari-harinya dipenuhi pekerjaan membantu simbok. Bangun tidur, ia harus membantu menyiapkan dagangan lalu mencari kayu bakar untuk memasak esok harinya. Siangnya Siti menyusul simbok di warteg untuk menggantikannya berjualan sementara simbok mengambil cucian di rumah pelanggan. Sore hari, kala matahari hampir terbenam Siti membantu simbok mencuci pakaian. Hampir tak ada kesempatan biarpun sejenak untuk sekadar bergurau bersama teman-teman sebayanya. Walau begitu hidup mereka tak kunjung membaik.
***
Usai sudah Siti membantu simbok menyiapkan dagangan. Sekarang ia tinggal membantu simbok menaikkan dagangan di punggung simbok. Tiap hari simbok membawa dagangannya dengan sebuah bakul kecil yang digendong di punggung.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh disertai goncangan dahsyat di tanah yang Siti dan simbok pijak.
“Siti, ayo keluar!” Simbok menggamit lengan Siti dan menyeretnya keluar tanpa mempedulikan dagangan lagi. Dagangan yang sudah tersusun rapi kini berhamburan di tanah.
“Mbok, apa ini?! Ada apa, Mbok?!” teriakan Siti tak terdengar Simbok.
Di luar orang-orang sudah berhamburan keluar rumah. Mereka berlari tanpa tujuan dengan teriakan yang keluar dari mulut masing-masing.
“Lindhu! Lindhu! Lindhu!” teriakan itu terdengar serentak.
“Mbok, dagangan kita!” Siti kembali masuk ke gubuk reyot, tempat tinggal mereka.
“Siti! Biar saja! Jangan masuk!” simbok berusaha mencegah Siti masuk lewat teriakan-teriakannya.
Usaha simbok sia-sia. Siti tetap masuk mengambil dagangan. Simbok pun menyusul ke dalam. Namun perlahan-lahan gubuk itu ambruk. Tiang-tiang tak mampu menahan lebih lama goncangan sesaat itu. Simbok berusaha kembali menarik Siti keluar sembari melindungi Siti dengan punggungnya. Beberapa detik kemudian goncangan berhenti. Tak terkira dan tak terduga sebuah benda melayang di atas kepala Siti dan simbok kemudian menghantam punggung simbok.
Refleks dekapan simbok pada tubuh Siti mengendor. Tubuh simbok terkulai di tanah, lantai rumah mereka. Siti bergantian mendekap simbok lalu berusaha memapahnya keluar. Usaha Siti kali ini tak sia-sia. Simbok berhasil dibawanya keluar. Darah mengucur dari punggung simbok, membasahi setiap jengkal tubuhnya. Sebagian tubuh Siti juga berlumuran darah simbok. Sedetik kemudian gubuk itu sudah rata dengan tanah.
Kini lengkap sudah penderitaan Siti. Di tengah deru kehidupan yang menyertainya ia kehilangan tempat tinggal satu-satunya. Siti juga kehilangan penghasilannya. Cucian yang akan dijemur nanti entah bagaimana nasibnya. Pecel dagangan simbok mungkin juga sudah bercampur dengan reruntuhan gubuk. Gubuk satu-satunya Siti tertindih salah satu bangunan perumahan di belakangnya. Dan simbok yang sudah sakit-sakitan terkulai tak berdaya.
***
Semua orang kini berkumpul di persawahan pinggir desa termasuk Siti dan simbok. Beruntung Siti anak yang baik hati sehingga semua orang tak sungkan menolongnya meskipun ia dan simbok miskin. Tadi simbok dipapah Mas Paijo menuju sawah ini. Punggungnya pun sudah dibalut sarung yang direlakan Mas Bejo untuk meredakan darah yang terus mengalir. Namun simbok belum juga sadar.
Semua bangunan kini tak ada lagi yang sempurna. Rumah-rumah mewah di belakang rumah Siti pun kini sama dengan gubuk mungil Siti. Semua luluh lantak tak ada yang berdiri kokoh lagi. Tak bisa terbayangkan para eksekutif kini juga merana meratapi nasib mereka. Tak ada lagi yang bisa diandalkan kecuali Tuhan.
Beberapa jam kemudian bantuan mulai berdatangan. Tenda-tenda mulai didirikan. Logistik juga mulai datang. Tenaga medis satu per satu membantu mengobati luka-luka termasuk luka simbok. Simbok sudah sadar meskipun kondisinya masih lemah. Siti duduk termenung di samping pembaringan Simbok. Satu hal yang masih ada di pikiran Siti, kapan Pak Presiden datang memberi bantuan?
Kini Siti hanya bisa termenung di bawah tenda pengungsian. Kadang ia menatap satu per satu sesama pengungsi sepertinya. Akankah ia akan hidup berkecukupan? Benarkah kata simbok kalau Pak Presiden mengambil uang rakyat? Tak ada kesibukan lagi yang dilakukannya kecuali menunggui simbok. Terkadang Siti menangis namun tatkala ia berada di dekat simbok, air mata disembunyikannya. Siti tak mau simbok sedih. Siti tak mau kehilangan simbok. Ia tak mau jadi peminta-minta. Simbok bilang, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
***
Matahari hampir tenggelam ketika terdengar sirine berdengung. Siti pun melongok keluar tenda untuk melihat apa yang terjadi. Ada beberapa orang berbadan tegap mengawal seseorang yang tinggi dan kelihatan berwibawa. Siapa dia, batin Siti. Penjahatkah? Penjajahkah?
“Pak Presiden datang! Pak Presiden datang!” beberapa orang berteriak kegirangan.
Pak Presiden datang?
Siti segera berlari ke tenda.
“Mbok, Pak Presiden datang! Pak Presiden datang, Mbok!” teriak Siti mengabari simbok. Simbok hanya bisa tersenyum. Tubuhnya masih terasa lemah.
Siti kembali keluar menyambut orang yang telah lama diimpikannya. Ia mendesak-desak orang di depannya agar bisa melihat Pak Presiden. Setelah perjuangan beberapa menit ia berada di jajaran terdepan. Pak Presiden tersenyum. Siti kini hanya bisa menatap Pak Presiden. Tak bisa berbuat apa-apa. Hingga Pak Presiden mendekatinya, membelai rambutnya yang lusuh, dan berkata, “Sabar, ya gadis kecilku…”
Siti pun menitikkan air mata keharuan. Hatinya berkata, mungkin jika semua ini tak terjadi, Pak Presiden tak akan datang.

27 Mei 2006
unforgettable moment …
Wish Allah always will be with us…

Rintihanku Tentang Bunda


Rintik-rintik air hujan masih terus membasahi bumi kala ku termenung di kamar menatapnya. Awan hitam masih menggelayut di langit yang seharusnya biru. Pikiranku terus mengembara diantara kisah-kisahku.
“Ri, aku pengen curhat denganmu,” aku beranjak dari tempatku duduk menuju meja belajar.
Ri masih terdiam.
“Ri, kenapa sih aku dilahirkan seperti ini? Kenapa nasibku seperti ini? Aku tak paham… Aku benci semua ini, Ri!!! Kenapa ibu seakan tak memperhatikanku? Terus saja sibuk dengan kehidupannya… Sedari tadi pagi aku belum makan nasi, aku hanya makan sepotong roti, oleh-oleh paman. Sepulang sekolah ketika kubuka tudung saji tak ada sebutir nasi atau lauk pun terpampang di pelupuk mataku. Hanya ada sepotong kue kecil di atas piring. Mereka benar-benar tak memperhatikanku!!! Aku tahu kesibukan mereka, Ri… Aku tahu, Ri! Tapi…” isakan tangisku mulai terdengar, tetes air mata jatuh seperti gerimis di luar sana.
“Tapi seenggaknya kasih sayangnya… kasih sayang mereka padaku bertambah, Ri…” aku akhirnya meninggalkan Ri sendirian di kamar. Ri masih diam saja.
* * *
Dua hari kemudian…
“La, ibu mau ke Bali sekitar seminggu ke depan, berangkat besok Senin sore. Kamu bantu Mbok sama bapak di rumah, ya! Udah mulai libur, kan?” ibu mengatakan hal itu ketika aku menyelesaikan membaca novel yang lagi hot dibicarain di sekolah.
Aku terhenyak seketika, “Acara apa sih, Bu? Nggak bisa ditinggal, ya?”
Ibu mengambil cangkir kopinya lalu meneguknya, “Studi banding di sana, masak mau ditinggal? Ibu ndak tega sama teman-teman.”
Aku terdiam. Tiba-tiba saja ide-ideku lenyap. Kubiarkan novel itu tergeletak di sofa. Aku beranjak ke kamar mandi.
“BYURR!!!”
Guyuran air ke mukaku membuat dingin wajahku. Tapi hatiku ini tak jua dingin. Aku masih belum bisa menerima. Aku tak bisa ditinggalkan ibu meskipun sebenarnya tiap hari ibu seakan juga tak mempedulikanku. Entah kenapa hati kecilku tak rela. Mungkin kasih ibu yang tak kurasakan masih bisa dirasakan hati kecilku ini.
Aku kembali ke sofa dengan membawa susu cokelatku.
“Hanya seminggu kok, La. Besok Ibu beliin oleh-oleh, deh! Kamu mau apa? Baju, souvenir, atau makanan?” ucap ibu seraya menyeruput kopinya kembali.
Aku turut meneguk susu cokelatku lalu aku terdiam sejenak.
“Terserah Ibu. Tapi aku pengen souvenir aja..” ucapku datar. Aku tak tega untuk tak menjawab pertanyaan ibu.
“Ya, sudah besok Ibu beliin.”
* * *
Hari Senin pun tiba.
Koper besar sudah terisi pakaian ibu. Ibu masih berada di kamarnya memperkirakan barang apa lagi yang harus dibawanya. Hingga detik demi detik berlalu, Senin sore telah berada di depan mata.
“La, Ibu berangkat dulu, ya! Jangan lupa bantu Mbok dan Bapak, ya?!” ibu menepuk bahuku lalu mencium keningku.
Aku hanya mengangguk pelan. Dadaku terasa sesak.
Setelah mobil yang membawa ibu berlalu menuju bandara, aku lari ke kamar. Kukunci pintu lalu kehempaskan tubuhku ke atas ranjang. Kubenamkan kepalaku di bawah bantal. Kutumpahkan air mata yang telah mendesak-desak kelopak mataku. Aku menangis. Isakanku semakin keras ketika aku teringat kekesalanku kepada ibu. Selimutku menjadi korban pengusap air mata. Ujung-ujungnya terasa basah.
Tak terasa aku tertidur. Ketika aku bangun jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Astaga!!! Aku bangun menuju kamar mandi, cuci muka. Lalu kugapai handphoneku.
1 pesan diterima.
“Met tidur ya, say!”
“Dari ibu?” aku heran.
Bahasa SMS ibu tak seperti biasanya.
“Say? Darimana ibu dapat kata-kata itu?” batinku.
Keherananku makin bertambah ketika aku sadar bahwa ibu ternyata memperhatikanku. Tetapi kenapa kalau di rumah ibu tak seperti ini. Kebingunganku akhirnya sirna perlahan-lahan bersama rasa kantukku yang kian tak tertahankan.
* * *
“Mbok, ada yang perlu dibantu nggak?”
“E…apa ya, Mbak? Ini aja tolong jagain gorengan ini, Mbok mau ke warung sebentar, beli bawang merah sama bumbu yang lain. Atau Mbak aja yang beli ke warung?” Mbok yang sudah melangkah, membalikkan tubuhnya lagi.
“Mbok, aja! Aku ndak tau apa yang mesti dibeli.” Aku pun melangkah menuju pengorengan.
“Jangan sampe gosong lho, Mbak!” pesan Mbok.
“Ya, Mbok!” aku mengiyakan.
Aduh, lama banget sih matangnya! Dari tadi bolak-balik belum kecokelatan warnanya. Mendingan nyelesaiin baca novel yang kemarin barusan dibeli.
Aku melangkah menuju kamar mengambil novel. Sedetik kemudian aku sudah berada di sofa yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Aku sudah terlarut dalam keasyikanku ketika tiba-tiba…
“Mbak!!! Gosong, nih!” teriak Simbok dari dapur.
Aku terhenyak. Kaget. “HAH!!! Maaf, Mbok, habis tadi lama banget sih warnanya berubah jadi kecokelatan. Sini kubantuin masak lagi, deh!”
“Bisa nggak ngiris bawang merahnya, dikupas dulu jangan lupa!” Mbok memberikan instruksi lagi.
Aku mengambil pisau. “Coba dulu, ya, Mbok!”
“He’eh,” Mbok menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian…
“Aduh!!!”
“Kenapa, Mbak?” Mbok menoleh padaku.
“Luka, Mbok. Aku ambil obat merah dulu, ya!” Aku berlari ke kotak obat di pojok ruang sebelah.
Ternyata susah, ya jadi ibu. Harus ngerjain ini itu, belum lagi kalau anaknya masih kecil. Kasihan ibu…
* * *
Hari ini ibu pulang. Aku harus menjemputnya di bandara. Bapak tak bisa menjemput. Ada urusan dengan rekan kerjanya. Sebenarnya aku enggan tapi siapa lagi kalau bukan aku yang menjemput.
Pukul 10.00 pagi, aku sudah stand by di bandara. Menantikan kedatangan ibu dengan menunggu. Membosankan. Beberapa waktu kemudian ibu tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Makasih, ya, La mau njemput Ibu di bandara,” Ibu tampak bahagia.
“Sama-sama,” Aku memaksakan tersenyum. Beberapa kejadian menyebalkan bersama ibu masih terngiang di benakku.
“Pulang, yuk!” ajak Ibu.
Aku hanya mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar. Belum sempat aku melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam terdengar suara Ibu.
“La, nih oleh-oleh buat kamu!” teriak Ibu sambil mengetuk pintu.
Kuputar handle pintu. Ibu mengangsurkan sekantung plastik besar ke tanganku.
“Makasih, Bu,” Hanya itu yang sanggup kuucapkan.
Ibu kembali ke kamarnya sedangkan aku kembali masuk ke dalam. Pelan-pelan kusibakkan plastik itu dan kukeluarkan isinya perlahan-lahan. Ada baju plus rok panjang, ada kalung dari kayu yang berbentuk bulat, ada ukiran Bali, dan ada lukisan panorama alam Bali. Wow!! Aku suka lukisan panorama. Aku telah memimpikannya sejak dulu tapi kalau aku minta uang kepada ibu, ibu selalu menjawab ‘besok’.
Aku segera berlari ke kamar ibu. Tanpa sempat mengetuk pintu aku masuk ke dalam. Tampak ibu sedang di ranjang memegang ponsel. Aku menghamburkan tubuhku ke pelukannya, pelukan terhangat. Lalu entah sadar atau tidak aku mengucapkan, “I love you Mom!”

Ganbar copas dari: andikabayuherbowo.wordpress.com.

Jumat, 29 Januari 2010

Senja di Padang Lamun


Begitu berharganya sebuah pertemuan
meski sejenak
untuk sebuah perpisahan

Kata-kata itu masih juga terngiang di benakku. Kata-kata yang terselip diantara ratusan kata yang pernah teruntai antara aku dan dia. Kata-kata yang membuatku bertanya-tanya, “Inikah kenyataan sesungguhnya atas kata-kata itu?”

***

Terlantun bahana rasa pada pucuk-pucuk menara
yang menyanderaku ke dalam penjara kasat mata
yang selalu membawaku ke padang bahagia
Meski kutahu, semua itu menjadi bahasa di batas kata


“Laf, besok arsitektur ekologi nggak ada tugas kan?” beberapa kata terpampang di layar benda mungil yang selalu kugenggam itu.
Aku segera mengetikkan kata-kata balasan, “Nggak ada, kak. Besok kan kuliah terakhir sebelum ujian.”
Sejurus kemudian, tanpa kusangka, ia kembali menderingkan ponselku via layanan pesan singkat. Dan pembicaraan pun kembali mengalir. Seperti kemarin, seperti dulu, seperti enam bulan terakhir ini. Tentang kuliah, tentang kesibukan, tentang hobi dan cita-cita, juga tentang kami. Ya, tentang kami. Aku, dia, dan keluarga kami.
Entahlah, dari mana semua itu berawal. Aku tak sadar. Aku baru menyadarinya saat kami seperti sudah melangkah terlampau jauh. Langkah-langkah bahagia, setapak demi setapak dalam alunan tawa itu tanpa sadar membawa kami sampai di titik ini. Titik di mana aku begitu merindukannya saat ia tak ada. Titik dimana aku begitu mengharap hadirnya, saat ia pergi tanpa sepatah kata pun.
Apakah rasa itu juga pernah bersemayam dalam benaknya? Apa yang terjadi padamu kini? Apakah kau telah menyadari semua yang terjadi itu adalah... salah? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuiku.

***

Pada dzikir-dzikir cintaNya aku memohon
untuk senyum bahagia kita
Pada ujung doa aku berharap penuh
“Ya Tuhan, jika memang itu yang terbaik...”


Andreano, dia adalah kakak tingkatku, selisih dua tingkat. Sosok Indo, Indonesia-Perancis, yang sederhana. Ia adalah salah satu mahasiswa kebanggaan di jurusan, orang yang ramah dan banyak teman. Kami hanya bertemu saat mata kuliah Arsitektur Ekologi karena tahun ini dia mengambil mata kuliah itu untuk perbaikan nilai, sebelum Tugas Akhir. Pertemuan sekali sepekan itu pun tidak lantas menjadikan kami terlibat pembicaraan nyata.
Tidak! Dunia nyata dan maya kami sungguh berbeda. Kami seperti tidak kenal satu sama lain di dunia nyata. Tetapi di dunia maya, gelak tawa sering terlontar pada pembicaraan-pembicaraan tak terduga. Ah, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Ia pergi dari duniaku secara tiba-tiba.
“Alhamdulillah, tadi aku udah berhasil ketemu Bu Maya. Konsep tugas akhirku sudah disetujui beliau. Insya Allah bulan depan aku udah nyusun tugas akhir.”
Pesan singkat itu yang terakhir kali dikirimnya untukku tiga minggu lalu. Pesan singkat yang dikirimnya pada sepertiga awal tengah malam, tak seperti waktu biasanya. Pesan yang membuatku terkaget-kaget mengingat waktu yang telah larut.
“Wah, selamat ya kak. Ngambil judul apa? Buruan lulus gih, biar tempat parkirnya sedikit longgar. Hehehe,” jawabku sedikit bercanda.
“Kamu ini bisa aja. Ya doain aja, lancar. Aku ngambil arsitektur ditinjau dari perspektif pendidikan untuk remaja. Kamu juga buruan lulus gih, biar kanopi nggak ruwet-ruwet amat. Hehehe...maksa.”
Sudah pukul dua belas malam. Kemampuan mataku tinggal beberapa watt. Kuputuskan untuk kembali membalasnya esok saja. Aku sepenuhnya sadar bahwa tak seharusnya aku bercakap dengannya pada waktu yang sudah larut ini. Tapi aku juga tak bisa menepis hasrat yang lebih kuat mendorong untuk menyambut percakapan itu.
Maafkan aku, Tuhan...
Keesokan hari saat matahari sepenggalah naik, kuketikkan beberapa kata, “Iya, maksa banget. Okelah, gud lak, te-a-nya...=).”
Dan itulah percakapan terakhir hingga detik ini. Karena ia tak membalas kembali pesan singkat itu. Kuliah juga sudah usai. Liburan akhir semester telah menghadang. Bahagiaku tak seperti bahagiaku liburan semester yang lalu. Saat ia menemaniku, meski jarak jauh, pada hari-hari liburan. Saat ia selalu menanyakan kemana aku berlibur. Saat ia terbang ke Bandung, kota kelahirannya, ia pun masih menemani hari-hariku.
Dan sekali lagi, itu semua sudah berlalu. Itu semua tinggalah kenangan. Sebulan sudah kami tak saling sapa. Fiuh...sebulan itu terasa sangat lama.
Tuhan, inikah yang dinamakan...virus cinta?

***

Ikan-ikan di kolam innercourt itu berenang-renang kesana kemari. Alangkah riangnya, menyelinap di sela tiruan batu-batu karang, lalu menyembul di bawah dedaunan suplir yang melambai pelan. Bias cahaya mentari memantul-mantul pada riak-riak air, yang disambut kembali dengan pantulan-pantulan di dinding bercat putih. Aku terduduk di balkon yang menyerupai dermaga kecil di atas kolam, bersandar pada pintu. Kuselonjorkan kaki di atas parquet yang menyelimuti balkon.
Setiap kulihat ikan itu, kenangan dengannya kembali berlayar. Ahh...
Kutarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kuhembuskan kembali kuat-kuat. Sedikit merefresh pikiran. Aku beranjak ke kursi malas rotan yang bercokol di sudut balkon. Kubaringkan badan di sana, kutatap lekat-lekat awan yang berjalan pelan, terhembus angin. Apa kabarmu, kakak?
Dan aku tersadar, aku telah kembali salah memikirkannya. Aku menjadi tidak produktif. Aku telah membuang waktuku sia-sia. Banyak hal yang seharusnya bisa kukerjakan daripada hanya memikirkannya. Memikirkan sesuatu yang tidak jelas adanya. Aku harus lebih baik, tak boleh lagi tertawan diri sendiri. Kucoba berbisik pada kalbuku, “Jika dia memang untukmu, dia pasti akan kembali padamu. Jika dia memang untukmu, dia pasti akan datang pada waktu dan tempat yang jauh lebih baik. Tuhan tahu yang terbaik untukmu...”
Aku berdiri, beranjak menuju kamar pribadiku. Kubangunkan laptop di meja kerjaku dari hibernate-nya. Kutatap layar yang masih putih bersih. Layar yang kutinggalkan semalam. Hmmh...esok deadline lomba cerpen yang diadakan BEM fakultas. Tak ada salahnya kutulis cerita nyataku ini dengan beberapa perubahan setting, tokoh, dan waktu.
Kutarikan jari-jariku di atas tuts-tuts keyboard, kujalin kata-kata itu menjadi untaian kata yang kurasa manis. Kucoba tulis semua itu dari hati terdalamku. Dan tanpa sadar, air mataku luluh, mengalir, membentuk sungai-sungai mungil di pipiku.
Andai saja ending cerita nyata hidupku akan seindah cerita khayalanku ini...

***

Esok kuliah sudah kembali aktif, sekaligus pengumuman pemenang lomba cerpen. Tak berharap banyak untuk menjadi pemenang lomba cerpen itu. Menuangkannya menjadi kata-kata nyata saja sudah menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Lagi pula cerpen itu kutulis tak lebih dari 24 jam, sepertinya editingku belum sangat matang.
Esok pula berbagai kemungkinan akan muncul. Akankah ia hadir di kampus? Akankah kami akan berpapasan di kampus? Atau secara tak sengaja hampir bertabrakan di pintu hall lantai tiga? Pikiran-pikiran itu kembali menggelinjang di benakku. Hingga kedua belah mataku terpejam dan kujumpai mentari esok hari telah kembali bersinar di ufuk timur.
Kusiapkan diriku untuk ke kampus. Hari pertama masuk di semester enamku ini, aku ingin tampil dengan sebaik mungkin. Kupakai pakaian kesayanganku, setelan kemeja dan rok panjang berwarna hijau muda. Tak lupa kerudung hadiah bunda pada ulang tahunku kemarin yang berwarna senada. Kuselempangkan tas krem muda bergaya casual di bahuku.
Kusambar kunci motor seusai sarapan dan berpamitan dengan ayah bunda. Di atas motor kesayanganku ini aku melaju menuju kampus. Hanya dua puluh lima menit waktu yang kutempuh menuju kampus arsitektur tercintaku. Bahagianya berjumpa dengan teman-teman di semester yang baru ini. Bahagianya mencoba belajar lebih dewasa karena adik-adik tingkat pun menjadi tantangan untuk semakin dewasa.
“Laffa!” Stefani memanggilku dari bordes tangga.
“Hai, Stef! Apa kabar?” jawabku setelah Stef sesampai di sampingku.
Stef menepuk bahuku, “Baik, ke sana yuk!” Stef mengacungkan tangan menuju kanopi.
Kuanggukkan kepala tanda setuju.
Di kanopi sudah berkumpul beberapa anak seangkatanku, Danny, Reza, Litha, Devi, dan Lulu.
“Hai, teman-teman! Gimana liburan kalian? Yang pada pulang kampung, mana oleh-olehnya nih?” sapaku nerocos kepada mereka.
Litha menggeser duduknya, “Baik, Laf. Wah, aku nggak pulang Laf, tanggung cuma libur sepekan,” ujarnya sembari tertawa lepas.
“Laf, selamat ya!” cetus Danny tiba-tiba.
Dahiku mengerut, bingung, bertanya-tanya, “Selamat atas apa, Dan?”
“Kamu kemarin ikut lomba cerpen yang diadain BEM kan? Itu udah dipasang pengumumannya di papan.”
“Yang bener aja, Dan?” aku masih tak percaya.
“Lihat aja sendiri, Laf. Jangan lupa makan-makannya ya...”
“Iya Laf, jangan lupa makan-makannya ya!” serentak anak-anak kemudian.
Aku tersenyum seraya berdiri menuju papan pengumuman di tepi kanopi. Terpampang jelas disana, “Laffa Danisha, pemenang pertama.”
Kuucap syukurku pada Yang Maha Kuasa. Tersungging senyum di wajahku kala aku kembali berjalan menuju teman-temanku yang bersiap menyalamiku sebagai tanda selamat. Sungguh ini adalah anugerah yang tak kusangka-sangka.

***
Senja itu bukanlah akhir dari segalanya
Saat mentari tenggelam di bawah cakrawala
Kau tahu, esok mentari kan kembali menyapa
Membawa angin bahagia di hati kita
Menyenandungkan lagu beromansa cita


Senja menorehkan sinaran oranyenya di langit barat. Sebagian menyusup di sela-sela jajaran pohon angsana. Bunga-bunga kuningnya berguguran seusai hujan. Sebagian tertiup angin lalu hinggap di ujung kerudungku. Aroma tanahnya masih kental tercium. Di sini, di Padang Lamun aku duduk di atas sebuah batu yang cukup besar, menggenggam note kecil dan sebatang pensil, mencari inspirasi.
Padang Lamun, tanah yang lapang di depan gedung arsitektur. Tempat di mana banyak mahasiswa biasa berkumpul untuk berdiskusi, bercakap, atau hanya sekedar duduk-duduk santai. Namun kali ini, di Padang Lamun hanya ada aku seorang. Maklum, masih hari pertama masuk kuliah.
Ponsel di sakuku bergetar.
Tampak di layar, satu pesan diterima, terpampang nama Kak Andre. Tanganku bergetar.
“Laf, maaf mungkin aku telah membuat teka-teki di pikiranmu. Rasanya aku sadar, aku telah membuncahkan sebongkah harapan di hatimu. Dan kini aku sadar, sepertinya aku telah menggoreskan luka di hatimu. Aku sadar telah membawamu salah melangkah. Maaf, Laf...”
Kupejamkan mataku erat-erat, menahan aliran air mata yang ingin keluar. Belum sampai kusimpan kembali ponselku, benda mungil itu kembali bergetar. Satu pesan kembali diterima. Satu pesan lagi dari Kak Andre.
“Laf, aku akan segera kembali. Pada waktu dan tempat terbaik. Pada jalan yang diridhaiNya, diridhai semuanya... Cerpenmu benar-benar jujur, Laf...”
Kini air mata sudah tak dapat kubendung lagi. Kutarik sehelai tisu dari lipatan kantong tasku. Kuusap air mata yang telah mengalir. Kutoleh gedung arsitektur yang telah mempersembahkan cerita terindah untuk hidupku. Tak sengaja mataku menangkap sesosok yang tengah berdiri di tengah kanopi, menghadap ke arahku. Lengkungan sabit terbentuk di wajahnya, senyum pertamanya...
Kak Andre...

Aih, aku baru sadar. Kak Andre adalah kabid Penerbitan BEM, dan cerpen itu pasti sudah mampir ke tangannya? Dan senja di Padang Lamun ini benar-benar seindah ending cerpenku itu.

Sleman, 26 Januari 2010
inspirasi terbesarku benar-benar hidupku

Separuh Cinta yang Hilang

Ada getar yang tak terukur,
Bersarang di hati terdalam,
Ada rindu yang tak tersekat,
Mengadu di benak pertemuan,
Namun ada cinta yang tak terperi,
Yang kini kucari.

Mentari pagi bersinar cerah. Bulan ini aku berada di Pangandaran. Alamnya sungguh menakjubkan. Pantai tentu saja ada, tak hanya satu tetapi dua, Pantai Timur dan Pantai Barat. Ada juga gua-gua yang tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan pohon-pohon hutan sekaligus cagar alam. Kudengar di sana baru saja digunakan untuk shooting sebuah reality show, acara terfavorit di sebuah stasiun televisi ibukota.
Aku berdiri di tepi pantai, diantara bebatuan yang berserakan bercampur pasir putih di tepi hutan kecil Pangandaran. Sesekali gulungan ombak laut menyambar lembut kakiku. Pun angin yang juga mengusap lembut wajahku. Semenit kemudian aku terduduk di atas perahu seorang nelayan. Sebentar kemudian aku mencicipi kecipak-kecipak muara kali kecil. Tak lama lagi aku merenungi diriku diiringi deburan ombak sebagai backsound dan birunya laut sebagai background. Sungguh terasa besarnya damai alam raya ini.
Aku teringat saat aku masih duduk di awal Sekolah Dasar. Saat ibu guru menyuruhku memperkenalkan keluargaku. Mula-mula kusebutkan namaku, nama ibuku, alamat rumahku, hobiku hingga cita-citaku. Lalu aku terdiam meminta persetujuan kepada ibu guru untuk kembali duduk.
Namun tampaknya beliau tak mengerti maksudku, beliau kemudian bertanya, “Siapa nama ayahmu?”
“Siapa? Siapa ayahku? Aku tak tahu…” kataku dalam hati.
Aku hanya terdiam. Aku bingung. Tak tahu harus berkata apa. Aku tak pernah tahu siapa ayahku. Aku hanya bisa memandang ibu guru dengan nada sendu. Tampaknya ibu guru baru mengerti arah pikiranku. Beliau hanya menepuk lembut bahuku sebelum menyuruhku duduk kembali.
Ketika aku pulang sekolah, siang harinya, tampak ibu sedang menjahit potongan kain yang biasa disebutnya pola. Ibu sedang menjahit kemeja yang seukuran badanku. Tentu saja untukku.
Aah…ibu aku tak sanggup membalas kasih sayangmu. Kasih sayangku hanya sepanjang galah sedangkan kasih sayangmu sepanjang jalan.
Seusai makan aku menghampiri beliau di beranda rumah. Ibu sedang menyulam. Aku ingin bertanya tentang ayah kepada ibu namun aku ragu. Aku terlalu takut ibu akan marah. Hanya menatapnya dalam-dalam yang bisa kulakukan.
Tampaknya ibu menyadari keberadaanku.
“Ada apa, Habib? Tumben tidak ceria seperti biasanya? Ada masalah?” tanya Ibu beruntun.
“Bu, bolehkah Habib menanyakan sesuatu?” ucapku takut-takut sembari duduk di sampingnya.
Ibu berhenti menusukkan jarum ke kain dan menatapku penuh kasih sayang, ”Kau ingin menanyakan apa, Nak? Kalau Ibu bisa menjawabnya tentu akan Ibu jawab tapi kalau Ibu tak mampu, maafkan Ibu ya, Nak?”
Ibu mengelus rambutku.
“Bu, Habib takut Ibu marah. Tapi Habib benar-benar ingin tahu…” aku menunduk tak mampu melanjutkan lagi kata-kataku.
“Ya sudah, katakan saja. Kalau Ibu marah kan ada Habib sebagai pereda kemarahan Ibu. Ya, kan?”
Ibu memang paling bisa membesarkan hatiku. Ketika aku diejek kawan-kawanku, ketika nilaiku paling jelek, ketika aku sakit. Sepanjang hidupku Ibu selalu membantuku, membesarkan hatiku.
Aku menghela napas sejenak.
“Bu, di mana ayah Habib?” aku lega telah mengatakannya sekarang.
Tapi Ibu kemudian tertunduk, “Maafkan Ibu Nak, Ibu benar-benar tak bisa mengatakannya. Ibu tak ingin Habib sedih. Habib masih kecil, Habib harus menikmati masa-masa bermain Habib dengan senang. Sudah, jangan pikirkan dulu di mana ayahmu berada. Hilangkan beban itu, Nak… Habib masih punya Ibu...”
“Tapi tanpa seorang ayah, Habib tak akan ada di bumi ini, Bu. Habib pasti punya ayah, Bu! Siapa ayah Habib, Bu?!” aku tak mampu menahan emosiku.
Air mataku mulai meleleh.
“Aku tak boleh menangis...” kataku pada hatiku.
Ibu hanya bisa menangis. Ibu tak bicara sepatah kata pun. Aku jadi menyesal melihat beliau. Ibu terus terisak-isak. Mungkin hati Ibu terguncang mendengar pertanyaan singkatku. Pertanyaan singkat yang bagiku bagaikan sebuah misteri yang harus segera dipecahkan namun bagi Ibu bagaikan halilintar yang menggelegar pada musim badai, yang harus dihindari.
“Maafkan Habib, Ibu… Habib menyesal menanyakan hal itu. Mungkin belum saatnya Habib mengetahui siapa ayah Habib…” aku ikut tertunduk di sisi Ibu.
Ibu kemudian merangkulku, mendekapku dalam pelukan hangatnya, dan mengelus punggungku, “Ibu yang bersalah, Nak. Ibu belum mampu menjawab pertanyaan Habib. Maafkan Ibu ya, Nak? Ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik bagi Habib…”
“Tak apa, Bu. Semua pasti ada saatnya. Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya, Bu. Dan mungkin kali ini Habib belum saatnya tahu siapa ayah Habib,” aku mencoba mengembalikan keceriaan Ibu.
“Anakku…” Ibu semakin erat memelukku.
Hangatnya kasih sayang Ibu semakin terasa dan aku semakin ingin merengkuh surgaNya di bawah telapak kaki Ibu.
***
Ketika waktu tlah menjadi jarak,
Dan ruang tlah menjadi sekat,
Inginku kembali seperti dulu,
Merajut kisah, menguntai kata,
Menjadi kesejatian untuknya,
Membiaskan cinta di hatinya.

Burung camar terbang melayang-layang di atas laut biru di bawah biasan sinar biru mentari sore. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sebentar lagi para nelayan akan kembali ke laut mencari tangkapan untuk mempertahankan hidupnya dan keluarga masing-masing. Ya Tuhan, semoga aku lebih beruntung daripada mereka...
Ibu telah meninggalkanku setahun yang lalu untuk selamanya. Kini aku tinggal sendiri di bumi ini. Merana seorang diri, berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Aku ingin mencari ayahku. Ibu belum juga mau membuka rahasia itu. Aku tak mungkin lagi menguak sisi-sisi kehidupan Ibu darinya sekarang. Aku akan mencari saudara-saudara Ibu. Semoga mereka mau memberikan sedikit keterangan padaku tentang ayah. Aku rindu ayah. Aku ingin mengecap hangatnya kasih sayang seorang ayah. Harapan dan cita-citaku sekarang hanya satu itu.
Seorang nelayan setengah baya datang menghampiriku.
“Siang, Nak!” ucapnya sumringah sambil merekahkan bibirnya.
Aku berdiri dan mengulurkan tanganku, “Siang, Pak. Mau melaut?”
“Ya, tetapi teman saya belum datang. Saya lihat kamu bukan orang sini, dari mana asalnya?” nelayan itu meletakkan jalanya lalu duduk di atas lembutnya pasir pantai. Aku pun mengikutinya duduk.
“Saya dari jauh, Pak. Dari Yogya. Saya tak sengaja ke sini, kata orang pemandangannya bagus.”
“Kenapa tak sengaja?” tanya nelayan itu dengan herannya.
“Sebenarnya saya ingin mencari ayah saya... Oh, ya nama Bapak siapa?” tanyaku sembari melayangkan pandangan ke hamparan laut tanpa ujung.
Bapak itu mengerutkan keningnya lalu berkata, “Nama Bapak Rosandi. Mencari ayah? Kau tak tahu siapa ayahmu? Namamu siapa?”
“Nama saya Habib. Sejak kecil saya tak tahu siapa ayah saya, saya belum pernah bertemu dengannya. Ibu tak mau menceritakannya, kini Ibu sudah meninggal dan saya berkelana mencari saudara-saudara Ibu untuk mencari tahu siapa ayah saya…” aku masih memandang ke laut.
Pak Rosandi memegang bahuku kemudian memainkan patahan karang dan berkata, “Ooh, maafkan Bapak, Bapak sudah lancang. Tapi bolehkah Bapak tahu siapa nama Ibumu? Barangkali Bapak mengenalnya. Bapak pernah tinggal beberapa tahun di Yogya.”
“Nama Ibu saya…e...Aisyah…” aku kembali teringat Ibu, kasih sayangnya.
“Aisyah? Aisyah, nama ibumu…” ucapan Pak Rosandi tiba-tiba terlihat janggal. Nada bicaranya berbeda dari kata-kata sebelumnya, kukira kalimatnya belum selesai. Dan bisa kulihat dari wajahnya jika beliau tengah memikirkan sesuatu.
“Bapak kenal dengan Ibu saya?” aku bertanya sesaat setelah aku menoleh padanya. Aku memendam harapan besar kepada beliau.
“Eee…tidak. Saya dulu juga punya teman namanya Aisyah tapi sebelum saya pindah ke sini dia meninggal, belum bersuami. Maaf itu teman saya sudah datang. Saya duluan, ya! Kapan-kapan mampir ke rumah saya, di ujung pantai!” Pak Rosandi segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah temannya berada.

Sleman, di penghujung 2005.

Terima kasih, Yah, Bun, untuk semuanya, untuk kepercayaannya yang tak terperi.
Dan untuk orang yang telah memberikanku inspirasi, percayalah bahwa hidupmu pun indah meski kau tak tahu siapa ayahmu. :)