Hampir tiga tahun sudah dia bersahabat dengan kereta –kereta kota, KRL.
Katanya, banyak pelajaran yang telah ia dapat darinya.
Banyak hal yang telah mewarnai lembar-lembar lukisan hidupnya.
Baik, buruk, konyol, aneh, dan seonggok episode lainnya.
Kereta mengajarkan untuk tepat waktu.
Terlambat satu menit saja.
Itu berarti menunggu satu dua jam untuk kereta selanjutnya.
Sama saja membuang waktu, meski seharusnya masih ada hal yang bisa dilakukan saat menunggu.
Tapi ia juga terlalu sering berlari, hanya untuk mencapai bibir pintu,
sebelum katupnya menutup.
Kereta terlambat datang mengajarkan bersabar.
Kereta macet mengajarkannya lebih bersabar, mengerti kondisi negeri ini.
Terkadang mengajarkannya pula untuk bersyukur.
Karena ia tak jadi ketinggalan kereta.
Kereta menaburkan banyak ilmu.
Setiap orang yang duduk di sebelah pasti memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda tentang suatu hal.
Bermacam karakter ada, mana yang akan kau teladani?
Seorang anak kecil yang rela tempat duduknya diberikan untuk ibu yang sedang hamil tua.
Atau seorang bapak yang dengan tak bersalahnya membalikkan keranjang sampah hingga isinya bertaburan di sudut gerbong lalu menjadikannya tempat duduk?
Atau perempuan itu yang merebut tempat duduk si A ketika si A menyerahkan barang milik temannya di kursi seberang?
Terserah kaulah.
Kau akan temui beragam profesi di atas ular besi itu.
Pedagang, buruh, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga manajer.
Dan semuanya memiliki posisi yang sama: penumpang kereta.
Kau pun bisa menjadi apapun di sana, tak pandang bulu.
Hanya nurani yang bicara.
Tak akan ada yang peduli saat kau berdesak-desakan di kereta saat awal dan akhir jam kerja.
Pun mungkin kau akan jadi terbiasa rendah hati saat kau tak mendapat tempat duduk.
Lalu berdiri sepanjang perjalanan atau duduk tanpa alas di lantai gerbong.
Kau pun bisa belajar menjadi kreatif dengan membawa kursi lipat kecil seperti yang biasa dilakukan bapak itu. Atau koran bekasmu yang masih kau simpan di dalam tas gendongmu.
Ia juga akan membawamu melihat sisi lain yang mungkin tak biasa kau lihat.
Saat kereta membawamu melintasi bentangan sawah.
Membawa pandanganmu menyusuri liku kehidupan pedesaan.
Lalu jelang stasiun tujuan kau menatap pada tepi jendela.
Dan tanpa sadar berucap, meski dalam hati, ”Aih, bagaimana bisa tepian teritisan atap rumah hanya berjarak dua puluh sentimeter dari badan kereta?”
Aku hanya ingin mensyukuri hidupku.
Apapun itu yang telah Dia berikan.
Langkah dan jangkah kaki ini telah membawaku pada banyak cerita tentang hidup.
Alhamdulillah Rabb...
Sleman, 20 Maret 2010
10:10pm
bibir jendela ini selalu menjadi tempat terindah di istana ini
berteman sepoinya angin malam dan segelas sekoteng yang lama tak kutemui
pelangi telah terbalik meski bintang tak jua nampak
*)terucap maaf untuk orang yang pernah kutemui di peron stasiun yang kini tak pernah lagi kutemui sekarang. semoga kau akan temukan apa yang kau cari. tapi bukan aku...
Rabu, 24 Maret 2010
Jumat, 26 Februari 2010
Curhat Setan: Hanya Ingin Share

-karena janji akan share pada seorang teman. :D setelah mencoba memahami bahasa tingkat tinggi itu.
Senja itu, Senin 22 Februari 2010, saya disodori sebuah buku bersampul putih polos tanpa banyak aksen dengan tampak samping buku –sisi kanan untuk buku kebanyakan- berwarna merah. Sekilas saya hanya bilang dalam hati: buku nyentrik. :p
Seperti biasa, yang pertama saya lihat pada sebuah buku adalah penerbitnya. Penerbit buku itu Gagas Media. Okelah, bukan penerbit yang asing. Selanjutnya membuka lembar awal yang menyertakan keterangan kapan buku itu terbit dan lembar akhir yang menginformasikan siapa dan bagaimana penulisnya. Hmmm...buku baru, terbit tahun 2009 dan masih cetakan pertama. Penulisnya Fahd Djibran. Seorang yang tertarik pada musik, sastra, kreativitas, dan.............filsafat.
Well, tak perlu berpanjang lebar saya langsung diberondong buat baca Curhat Setan. Curhat Setan hanyalah salah satu judul tulisan semi-fiksi yang terkumpul dalam buku itu. Di dalamnya terdapat juga beberapa puisi karya sang penulis.
Curhat Setan mengisahkan mimpi seorang manusia. Pada mimpi tersebut dikisahkan ia didatangi setan. Tapi tidak seperti kebanyakan setan dalam persepsi manusia yang menggambarkan buruk rupanya setan, setan di sini berpenampilan sangat baik. Cermin yang tak mungkin berbuat kejahatan. Pokoknya beda banget sama persepsi manusia. Bukan setan yang punya cula tuh, bukan pula setan yang bertaring, berkulit hitam, atau bermata kemerahan.
Setan bercerita bahwa ia tak mau disalahkan atas perbuatan manusia. “Lha sing salah kan manusia, masa aku yang dibruk-bruk-i kesalahan,” kilahnya. Ya, setan memang menggoda tapi apakah setan bersalah? Bukan manusianya yang lemah iman?
Terkait dengan kisah Adam Hawa di surga, setan berkelit bahwa dengan menggoda ia hanya ingin memberi kebebasan pada dua makhluk itu untuk memilih, tanpa paksaan, tanpa kekangan. Akhirnya Adam Hawa makan buah khuldi dan diusir dari surga bersama para setan. Di sini setan merasa bahwa ia tak salah karena kenyataannya Adam Hawa tergoda (iman belum kuat-itu tangkapanku dari cerita ini). Bukankah setan tak bersalah? (tapi menurutku, seandainya setan nggak menggoda, bukankah itu lebih baik?)
Tapi mengapa Tuhan juga menyalahkannya? Lalu setan bilang kalau Tuhan itu otoriter karenanya. (nah ini yang rada nyentil menurutku :o)
Hmm.. setan dan manusia itu bersahabat. Mereka bersepakat dalam banyak hal. Setelah setan menyakinkan manusia bahwa ia tak seperti persepsi kebanyakan manusia itu. Termasuk perbuatan salah manusia. Perbuatan salah manusia tetaplah manusia yang salah, dan jika benar maka itu akan menjadi kebenaran manusia. (ya intinya setan tetaplah sang penggoda sejati).
Tapi akhirnya mereka berdebat siapa yang akan menjadi pemimpin diantara mereka dalam suatu misi membenarkan persepsi-persepsi ‘salah’ tentang setan tadi. Tak ada yang mau mengalah! Tiba-tiba (mak cling! :D) manusia teringat sebuah ayat yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna diantara semua makhluk ciptaan Tuhan. Dan mati katalah setan. Manusia lebih menang –karena lebih sempurna-. Persahabatan yang terbangun sekejap itu berakhir sekejap pula. Manusia terbangun dari mimpi. Selesailah semuanya.
“Ketika setan merasa disalahkan atas perbuatan salah manusia, ketika setan merasa bahwa Tuhan itu otoriter. Lalu siapa yang harus disalahkan?”
“Ketika semua kembali padaNya maka kebenaran itu ada pada kita sebagai makhluk yang sempurna. Tak ada yang perlu dipersalahkan dan dipermasalahkan. Pesan ada di ujung cerita, kala manusia bilang bahwa ia yang paling sempurna, dan paling pantas memimpin. Ia kembali padaNya...”
*)jangan menjadi serius, jangan dipikir dalam-dalam, ini juga hanya pemikiran dan imajinasi manusia. semua dikembalikan ke pedoman terbaik dan teragung hidup kita.
Solo, 23 Februari 2010
05:41pm
dalam dekapan senja yang terhujani tangisan langit
**)also available at terbanglahasaku.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)