Pasca sidang pendadaran menemui titik usai, gaung nama ibukota menyenandung riang dan kian nyaring di gendang telinga saya. Dosen pembimbing kedua saya dengan semangatnya mendukung saya untuk melangkah ke kota itu. "Ke sanalah dulu, cari pengalaman," ucapnya berkali-kali. Dan beliau terlihat kecewa saat saya berkata ingin tidak jauh-jauh dari rumah.
Begitu pula dengan ketua jurusan arsitektur. Saya mengenal baik beliau sejak semester delapan lalu. Tentang hal ini, banyak teman yang bertanya-tanya bagaimana bisa saya mengenal baik ketua jurusan itu. Maklum, beliau bukan pembimbing akademik saya, bukan pula pembimbing tugas akhir. Perjumpaan pertama saya dengan beliau adalah saat sidang seminar di semester tujuh. Salah satu dosen penguji berhalangan hadir dan kemudian (mungkin) beliau didaulat untuk menggantikan. Saat itu beliau masih asing bagi saya karena baru saja kembali dari tugas belajar strata tiga. Setelah itu kami kembali berjumpa pada salah satu mata kuliah perbaikan dan beliau adalah pengampu kedua. Well, dari sanalah saya mengenal dekat beliau --efek samping sok cari perhatian dan sering setor muka :P.
Dan dari beliau, bapak ketua jurusan, pula saya tiba-tiba terjebak dalam ruang kebingungan dan kebimbangan melangkah. Pagi itu saya hanya berencana mengambil sejumlah eksemplar konsep tugas akhir yang telah dibubuhi tanda tangan di meja beliau. Jumat pagi itu suasana kampus begitu sepi, termasuk lorong di depan ruang-ruang dosen hingga bibir ruang ketua jurusan yang biasanya ramai. Saya pun hanya seorang diri melangkah masuk ruang yang kini dikuasai pimpinan tertinggi jurusan tersebut.
"Pak, sudah ditandatangani?" Saya bertanya singkat.
Beliau meletakkan ponsel, "Ini sudah..."
Bergegas saya masuk, mengecek ulang lembar-lembar pengesahan. Sementara bapak ketua jurusan bertanya ulang apa rencana saya setelah ini. Saya tersenyum dalam kebingungan menjawab pertanyaan beliau. Layaknya mengetahui saya masih terombang-ambing, beliau bercerita bahwa tadi ada pesan singkat dari alumni. "Saya baru nego, semoga fresh graduate bisa masuk. Tapi di Jakarta..." kata beliau tepat di ujung cerita.
Sebelumnya saya memang pernah bercerita kepada beliau tentang apa dan bagaimana sosok Jakarta di mata saya dengan bumbu cerita-cerita teman-teman. :D Dan saya tak ingin berpanjang lebar menceritakan ulang kembali hal tersebut. Setelah sejenak bercakap-cakap, seulas kalimat "Nanti saya pertimbangkan, Pak.." meluncur tanpa halangan sebelum saya melangkah keluar.
Dan siangnya, ponsel saya bergetar. Pesan singkat dari beliau, "..fresh graduate boleh, bagaimana?"
Lalu saya semakin terjun bebas di jurang kebingungan..
bapak, saya ingin bertemu lagi. saya ingin meminta pertimbangan lagi. saya ingin diyakinkan lagi.
Pasca menekuri salah satu karya Asma Nadia –-kumcernya lah yang pertama kali bunda perkenalkan padaku satu dekade silam--, saya tiba-tiba tersadar dengan kalimat-kalimat berujung dua kata: karena Allah. Kalimat-kalimat dengan pemanis dua-kata itu sudah sangat jamak di indera pendengaran dan penglihatan saya.
…karena Allah…
Apa sesungguhnya makna dua kata itu sehingga kita bisa dengan sangat sering dan sederhana bisa mengatakannya. Apakah kita sesungguhnya telah mengerti –rasanya tak cukup mengerti, mengingat nama Ia Yang Maha Segalanya pun turut serta-, apakah kita sesungguhnya telah memahami esensi dua-kata tersebut sehingga dengan mudahnya bisa menjelmakan ia dalam tutur kata, baik secara oral, auditori, maupun visual?
Saya pernah mendiskusikan hal tersebut dengan seorang sahabat. Menurutnya, “karena Allah” berarti kita melaksanakan kata kerja yang mendahului dua-kata tersebut benar-benar karena Allah, tidak ada tendensi selainNya. Lalu apakah kita berhak protes ketika kemudian menemukan sesuatu apapun yang tidak berkenan dalam lingkup lingkaran kata kerja tersebut? Karena Allah, berarti kita menerima apapun yang terjadi secara ikhlas sungguh karena semua itu milik Allah. Apabila kita tidak berkenan dengan sesuatu dalam lingkup kata kerja dan dua-kata itu, maka ketidak-berkenan-nya kita itu ‘naik derajat’ ke hadapan Allah. Allah yang menciptakan semua itu, dan kita tidak berkenan…
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
*sedang sangat mempertanyakan makna dan esensi dua-kata itu. Allah, maafkan aku jika telah salah menempatkan asmaMu…
Ngecek email, dan menemukan surat elektronik ini, yang kemudian membuatku bingung. =) antara studio akhir dan research... So? Ke manakah pilihanku akan berlabuh?
Kesempatan Magang Penelitian
CIFOR (Center for International Forestry Research) adalah sebuah organisasi nirlaba internasional di bawah naungan CGIAR (Consultative Group for Agricultural Research). CIFOR beroperasi di Indonesia berdasarkan surat Keputusan Presiden No. 71 tahun 1993 dan surat perjanjian kerjasama yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tanggal 15 Mei 1993. CIFOR berkantor pusat di Bogor, Indonesia. Salah satu kegiatan penelitian CIFOR adalah “studi komparatif global mengenai REDD+ (reducing emissions fromdeforestation and forest degradation)”. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyerap pelajaran yang didapat dari berbagai negara, untuk menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan, praktisi dan penyandang dana terkait.
Kami sedang mencari tiga mahasiswa berbakat untuk bergabung dalam kegiatan penelitian kami di dalam suatu proyek REDD di lahan gambut eks-PLG di Kalimantan Tengah. Penelitian multidisipliner ini bertujuan untuk memahami fenomena kebakaran gambut dan penyebabnya dari sisi budaya, sosial ekonomi dan biofisika/ekologi. Mahasiswa yang terpilih akan mengadakan penelitian lapangan dengan tim kami selama ± 2 bulan di musim kemarau 2011 (sekitar bulan Agustus – Oktober).
Mahasiswa yang terpilih akan menerima
Anggaran penelitian lapangan. Jumlah anggaran berdasarkan kebutuhan penelitian masing-masing
Biaya hidup di lapangan (akomodasi + makan di rumah penduduk, transportasi PP dari/ke kota asal universitas masing-masing , uang saku Rp 700,000/bulan dan asuransi kesehatan)
Masukan untuk penulisan proposal penelitian dan skripsi, beserta bimbingan di lapangan dari peneliti CIFOR
Bimbingan untuk menghasilkan artikel jurnal dan presentasi ilmiah
Pengalaman kerja di lembaga riset internasional
Presentasi ilmiah di kantor pusat CIFOR di Bogor yang dibiayai oleh CIFOR
Prasyarat utama
Mahasiswa S1/S2 yang sudah memenuhi prasyarat kuliah untuk memulai penelitian untuk skripsi/tesisnya pada saat kegiatan
Bersedia memulai penelitian di lapangan pada waktu yang ditentukan (sekitar Agustus atau September)
Mempunyai IPK minimal 2.75
Mempunyai minat yang kuat untuk melakukan penelitian berkaitan dengan kebakaran gambut, dan menghasilkan skripsi/tesis yang berkualitas tinggi
Siap bekerja di lapangan terus-menerus selama minimal 2 bulan dalam kondisi minim dan tempat bekerja yang tidak nyaman.
Mempunyai etos kerja tinggi, bisa bekerja mandiri, dan berpikir kritis
Nilai tambah
Mengerti adat-istiadat dan bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah
Mempunyai pengalaman kerja lapangan, baik untuk penelitian atau dalam kapasitas kerja lainnya
Lancar berbahasa Inggris
Tanggung jawab
Pada saat di lapangan, bersedia menghormati adat-istiadat masyarakat lokal dan bisa menyesuaikan diri dengan norma sosial masyarakat setempat
Menulis rencana kerja penelitian yang disepakati peneliti CIFOR, mahasiswa dan dosen pembimbingnya sebelum penelitian dilakukan
Melaksanakan penelitian di lapangan sesuai dengan rencana kerja di atas
Memberikan laporan kegiatan dan keuangan seusai kerja lapangan dalam waktu 1 bulan setelah penelitian lapangan
Memberikan presentasi ilmiah di kampus CIFOR di Bogor dalam waktu 6 bulan setelah penelitian lapangan
Mahasiswa yang berminat harus mengirimkan dokumen-dokumen berikut:
Surat pengantar dari mahasiswa yang menyatakan minat, bakat dan kemampuan penelitian
CV
Ringkasan proposal penelitian, yang terdiri dari 3 bagian:
Deskripsi penelitian dan motivasi (kenapa penelitian ini penting dan menarik?) – 1 atau 2 halaman
Perkiraan timeline/jadwal kerja selama di lapangan