“Banyak pilihan dalam hidup. Jika aku memilih salah satu, aku akan bertahan pada satu pilihan itu. Kecuali waktu akan menjebakku ke dalam pilihan lain. Dan setiap hal yang terpilih itu tetap ada konsekuensinya. Lalu jangan memaksaku untuk sempurna dalam dua hal sekaligus.”
Sabtu, 21 September 2013
Learn by Never-Ending-Support
Minggu, 01 September 2013
Warisan dan Profesi
Selasa, 22 Januari 2013
A Half Hour with Ahmad Djuhara
Kamis, 08 November 2012
Pekan Seni Tradisi dan Produk Kreatif Nusantara 2012
| Welcome Gate |
| Peta Petunjuk |
| Membuat Wayang |
| Stand Furniture | some of them are unique :) |
| Angkringan Jogja Papercraft |
| Rempah-Rempah |
:D
Kamis, 05 Januari 2012
Tabir Harapan Bagi Mereka di Ujung Negeri
“Masyarakat yang dekat dengan pusat kemajuan, katakanlah masyarakat Pulau Jawa, memandang Sulawesi Barat hanya sejauh dua jam perjalanan dengan pesawat. Namun, Pulau Jawa di mata masyarakat Sulawesi Barat adalah suatu tempat di negeri antah berantah. Sungguh jauh. Apalagi bertemu dengan Wakil Presiden, membayangkan saja tidak.” (hlm. 107)
“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.” (Anies Baswedan, hlm. xv)
Kamis, 04 Agustus 2011
Ketika Berpikir Nanti dan Nanti Masih Ada Waktu
Ambillah waktu untuk berfikir, ini adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, ini adalah waduk kemudaan yang abadi.
Ambillah waktu untuk membaca, ini adalah dasar kebajikan.
Ambillah waktu untuk berdoa, ini adalah kekuatan terbesar di bumi.
Ambillah waktu untuk mengasihi dan dikasihi, iman adalah kasih sayang dan bukan kebencian.
Ambillah waktu untuk menjalin persaudaraan, ini adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk bergurau, ini adalah pelumas yang terbaik.
Ambillah waktu untuk bershadaqah, hidup ini terlalu singkat untuk menjadi egois.
Ambillah waktu untuk bekerja, waktu adalah harga keberhasilan.
-Salim Akhukum Fillah-
“Ufh...nanti sajalah kukerjakan. Nanti juga masih ada waktu. Deadline masih sepekan lagi kok.”
Seberapa sering kata itu terucap dari bibir ini? Ketika waktu yang ada dibiarkan berlalu begitu saja padahal banyak hal yang dapat dikerjakan, banyak target yang bisa selangkah diraih, banyak hal kecil yang bermanfaat yang bisa disisipkan pada sedikit waktu itu.
Enam hari kemudian...
“Hah? Besok deadline! Grudak! Gruduk! Gubrak! Brak, brak, brak!”
Keringat dingin bercucuran. Tangan gemetar. Pikiran begitu tegangnya. Lalu hasilnya? Bisa kupastikan tak maksimal. Dan di hati terdalam akan berkata lesu, “Andai kukerjakan kemarin-kemarin...”
Waktu tak dapat diputar lagi, kawan. Jika ia berlalu maka sudahlah ia berlalu. Seberapa keras berteriak memanggilnya, tak akan jua ia kembali. Waktu tak punya telinga. Ia hanya punya kaki yang kuat, yang bisa membawanya berlari kencang meninggalkan semuanya. Ia tak akan pedulikan lagi siapapun yang tak mempedulikannya. Jika kau peduli pada waktu, maka ia juga akan peduli padamu meski tak kau sadari.
Waktu. Keabstrakan yang terejawantah dalam lima huruf itu sesungguhnya sangat berharga. Ia bagaikan emas. Tak salah jika kemudian Sean Covey berkata:
Untuk tahu nilai satu tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan.
Untuk tahu nilai satu bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk tahu nilai satu minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Untuk tahu nilai satu hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.
Untuk tahu nilai satu jam, tanyakan pada kekasih yang menanti saat bertemu.
Untuk tahu nilai satu menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Untuk tahu nilai satu detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk tahu nilai satu milidetik, tanyakan pada peraih medali emas olympiade.
Dan pada akhirnya...
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
-QS Al ‘Asr (103): 1-3-
*)sepotong pikiran ketika matahari naik sepenggalah. mengingat waktu yang tlah berlalu namun tak jua ku melangkah.
Solo, 02 Januari 2010
09:22am
pagiku hilang sudah melayang...
Selasa, 12 Juli 2011
Bye Bye Facebook
lepas dari keseharian kumasuki sisi hidup yang lain. pada mulanya sempat meragu aku tetapi kesadaran tentang jalan yang tak mesti selalu lempeng mengantarku sampai pada pengertian bahwa pencarian setiap orang senantiasa dalam warna berbeda. (Toto ST Radik)
Firstly I wanna say, “I’m sorry, Mark Zuckenberg…”
Ini adalah sebuah pergulatan batin yang berat. Di sana saya menemukan salah satu jendela dunia. Tetapi terkadang memang ada hal-hal yang harus dimenangkan dan dikalahkan meskipun itu sama-sama penting, seperti kata dosen pembimbing studio perancangan 7 satu semester yang lalu. Kini, ada hal-hal yang tidak bisa saya tolerir bagi diri saya lagi. Kehidupan di ruang maya bernama Facebook bagi saya –dalam akun pribadi saya tentunya—sudah tidak sehat lagi. Terlalu banyak permainan yang melibatkan berbagai intrik dan taktik. Dunia maya dan dunia nyata memang berbeda, dan pada akhirnya menurut saya kepercayaan yang dimunculkan melalui situs jejaring sosial ini bukanlah kepercayaan yang dapat dipercaya.
Jejaring sosial itu hanya tempat untuk sekedar melampiaskan pikiran-pikiran yang tak tersampaikan, ruang untuk melampiaskan emosi yang tak tersalurkan demi mengejar eksistensi pribadi. Saya bukan selebritas yang mengejar popularitas. Efektifitas publisitas dan pengkaryaan diri melalui fitur foto dan catatan saya akui dengan dua acungan jempol. Tapi kedua hal tersebut kini harus dikalahkan dulu. Saya memutuskan menarik diri dari publik maya, meninggalkan hingar bingar dunia dengan menonaktifkan akun pribadi saya dalam jangka waktu yang tidak pasti. Mungkin selamanya, mungkin akan banyak kerinduan dengan situs itu…
Sudah saatnya saya mencari ruang yang lain lagi untuk aktivitas beravontur di dunia maya. Saya banyak terinspirasi oleh catatan-catatan sederhana kakak tingkat saya, Mbak Sekar, melalui blognya “ladder to the sun”. My Philately dan Postcrossing adalah dua laman yang ingin saya jelajahi setelah saya membaca salah satu postingan di ladder to the sun. Sebelumnya saya sempat mendaftar di akun Flickr dan Goodreads meskipun belum terlalu aktif di kedua laman tersebut. Saya pikir keempat situs tersebut akan sangat mewakili dan menjadi sarana pelampiasan saya yang lebih efektif.
Sekian tahun saya menjalani hobi yang diwariskan ibu sebagai kolektor perangko. Kemudian iseng saya mulai pula mengumpulkan kartu-kartu pos. Hobi ini memang langka di masa ini, di tengah kemodernan teknologi yang kian menggila. Tetapi saya masih menyukainya. Fotografi dan membaca juga merupakan komponen yang cukup penting dalam perjalanan hidup saya. Saya suka fotografi kesunyian dimana objek yang dibidik adalah objek tanpa model bernama manusia. Kalaupun ada manusia, sebatas dalam batas naturalisme saja. Dan tentunya saya mencintai membaca. Membaca apa saja. Karena saya tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca, dan sebaliknya.
Akhirnya laman yang akan sangat sering saya kunjungi kemudian adalah laman ini. Di mana saya tidak lagi memerlukan pengakuan, apresiasi, dan popularitas atas tulisan-tulisan saya dengan cara ‘memaksa’ (tagging—istilah yang saya maksud) untuk sebuah eksistensi. Biarlah segala sesuatunya berjalan apa adanya. Semoga ini merupakan cara saya untuk lebih mendewasakan diri. =)
Sleman, 12 Juli 2011 09:00
Sabtu, 02 Juli 2011
Solo Batik Carnival (Juni 2011)
Jumat, 20 Mei 2011
Hotel Anti Kiamat?
Hotel ini merupakan hotel anti kiamat yang pertama di dunia. Hotel ini memiliki disain menyerupai kerang. Selain itu, struktur bawah tanahnya berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Strukturnya tahan gempa dan dapat mengapung di perairan luas seperti laut, sehingga terlindung dari luapan air atau banjir. Hotel ini pun bisa berdiri di daerah berbahaya. Hotel raksasa yang mengambang ini diklaim juga sebagai ‘biosfer’, surga yang nyaman bagi para penghuninya, bahkan saat bencana sekalipun.Pernah dengar kisah Nabi Nuh? yang membuat kapal selamat dari banjir besar yang terjadi di seluruh dunia? Dan inilah wujud modern dari ide kapal Nabi Nuh itu. Tapi, ini baru rancangan saja. Pemilik dari desain hotel ini masih menunggu investor yang mau mewujudkan impian hotel anti kiamat ini menjadi kenyataan .
Menghadapi anacaman Global Warming atau yang sering kita sebut dengan pemanasan global, saat ketinggian air naik menenggelamkan seluruh planet Bumi, inilah ide untuk menyelamatkan diri. Inspirasi ini pertama kali dikemukakan oleh perusahan arsitektur, Rusia, Remistudio.
Dalam program arsitektur penanggulangan bencana International Union of Architects, Remistudio merancang sebuah hotel yang bisa berperan sebagai bahtera penyelamat, kalau-kalau bencana dahsyat terjadi. Namanya, Ark Hotel. Bisa didirikan di laut atau pun di darat.
Konsep yang ramah lingkungan serta mendukung adanya udara di dalam horel ini . Setidaknya seperti dikutip oleh perusahan arsitek Rusia itu. Desain hotel futuristik ini menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan, menjamin ketersediaan energi, juga air bagi para penghuninya. Menikmati aurora borealis. Lingkungan yang mirip rumah kaca juga memungkinkan tanaman tumbuh subur, membantu meningkatkan kualitas udara dan juga menyediakan makanan.
Selain itu, strukturnya yang tembus pandang membuatnya hemat energi di siang hari. Cukup memanfaatkan energi matahari. Untuk memastikan kualitas cahaya, bingkai kaca dilengkapi pembersih otomatis. Menurut Alexander Remizov dari Remistudio, ada dua pertimbangan utama dalam desain ini.
Seperti dapat dilihat di gambar. Kira-kira inilah contoh hotel anti kiamat yang pertama di dunia itu . “Pertama, meningkatkan pengamanan dan pencegahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan perubahan iklim. Yang kedua adalah melindungi lingkungan alam dari aktivitas manusia,” kata dia, seperti dimuat Daily Mail. Inilah penyebab bintang tampak berkedip.Bahtera ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan lingkungan global saat ini. Juga untuk mendukung sistem pertahanan hidup.
“Semua tanaman dipilih yang sesuai, efisiensi pencahayaan, dan produksi oksigen. Juga bertujuan untuk menciptakan ruang yang menarik dan nyaman,” kata dia. Remizov menambahkan, atap hotel yang transparan menjamin ada cukup cahaya bagi tanaman dan untuk menerangi interior.
Perancangnya mengklaim, Ark Hotel bisa didirikan hanya dalam waktu beberapa bulan di seluruh bagian dunia. “Bagian-bagiannya bisa disatukan dalam waktu tiga sampai empat bulan,” kata Remizov.
Kiamat memang tidak bisa kita hindari sebagai orang yang beragama . Lepas apakah kita bisa mkenyelamatkan diri atau tidak dari kiamat, konsep ini sangat bermanfaat untuk menanggulangi masalah gempa dan pemanasan global yang mengakibatkan banjirnya seluruh dunia.
dikutip dari sini dengan beberapa perbaikan tata bahasa
Senin, 16 Mei 2011
Ingin Berkarya Hingga Nafas Terakhir

Keyakinan ini masih tidak akan goyah.
karena aku tidak boleh mudah goyah.
Maka...
This is what i'm...
"Bagi seorang arsitek, sarana publikasinya adalah karyanya itu sendiri."
PS: terimakasih atas kepercayaannya... i'll do my best...=)
seperti halnya yang didengung-dengungkan para penulis profesional: mari menulis, agar kelak saat menutup nafas, ada jejak yang kita tinggalkan. agar tak sekedar nama yang kita tinggalkan untuk dunia.
dan itu tidak hanya berlaku bagi penulis kan? arsitek juga kan? =)
Puncak Suroloyo, Perjuangan Menaklukkan Diri Sendiri
Pagi itu perjalanan menuju Puncak Suroloyo dimulai. Puncak ini berada di kawasan Kalibawang, Kulon Progo; termasuk pada deretan Pegunungan Menoreh. Pegunungan Menoreh biasanya hanya bisa kulihat di kejauhan dari jalan meuju istana ayah ibuku.
Tapi kali ini keyakinan ini lebih kuat. Aku ingin menaklukkan diriku untuk mencapai puncak itu. Well, jalan yang kulalui merupakan medan yang benar-benar berbeda. Meskipun sudah berulang kali aku pergi ke tanah-tanah ketinggian, aku masih merasa medan ini benar-benar tidak biasa. Tidak seperti medan ke kawasan Candi Sukuh-Cetho di lereng Lawu yang menurutku adalah medan paling terjal pada waktu sebelumnya. Pun tidak seperti medan menuju Desa Segoro Gunung, dimana aku dan kawan-kawan BEM FT UNS pernah mengadakan upgrading. Tidak pula seperti Cemoro Sewu, salah satu titik awal pendakian Lawu atau kawasan Ketep-Kedungkayang di Magelang.
Medan ini benar-benar menantang! Jalanan sempit, hanya cukup dilalui dua mobil yang berjalan pelan-pelan (sudah ditambah "trotoar" jalannya). Kanan kiri jurang menganga seakan siap melahap apa-apa yang melintas di lehernya. Suasana sepi, kanan kiri kebanyakan ladang dengan rumah-rumah yang jaraknya jarang. Beberapa tebing sempat longsor, hingga jalanan menjadi licin dan harus turun dari kendaraan (terimakasih bapak yang udah nolong menyelamatkan dari licinnya jalan bekas longsor =)). Beberapa jalan juga ditutup karena tanah yang longsor belum disingkirkan. Mmm... jalan kecil itu juga banyak yang berlubang disana-sini. Kerikil-kerikil aspal sudah terlepas, kalau tidak hati-hati... entahlah akibatnya. Yang tak terlupakan adalah penduduk yang ramah-ramah. =)
Adrenalin benar-benar terpacu. Napas tertahan. Hembusan napas jadi terasa lebih teratur. Mungkin inilah yang kurasakan saat menuju tanah-tanah yang tinggi: berlatih menahan emosi, mengatur diri pribadi, memanajemen empat nafsu yang dimiliki makhluk bernama manusia.
Perjuangan itu akhirnya menemui titik akhirnya. Tanah-tanah yang tinggi benar-benar menunjukkan kekuasannya. Bahwa manusia bukanlah apa-apa. Bahwa perjuangan itu tidaklah bersifat instan, semua ada prosesnya.
Haruskah kita menyerah begitu saja? Itu yang kupikirkan saat menaiki tangga meuju gardu pandang tertinggi, yang (kuhitung) berjumlah 290 buah anak tangga. Tidak, menyerah bukanlah solusi terbaik. Rehat sejenak bolehlah, tapi menyerah? Menasbihkan diri untuk jadi pecundang?
Aku tidak bisa melukiskan apa-apa yang kurasakan saat berada di tanah yang tinggi itu. Satu kata: subhanallah...


















