Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Learn by Never-Ending-Support

 Since I found a new family there.

Perjalanan itu tak pernah berhenti dan tanpa pernah disangka-sangka alurnya. Ketika takdir membawaku bergabung dengan tim yang kini menjadi basisku belajar. Ya, belajar. Sejak hari pertama aku mengenal mereka, yang kini menjadi teman-temanku, tak henti-hentinya berbagai macam dukungan kurasakan dalam banyak cara dan rupa.

“Aku dulu juga seperti itu. Bahkan kukira justru di sinilah tempat kuliahku yang sebenarnya.”

“Ada CAD, SketchUp, 3DsMax, ArchiCad, dan Revit.” Dan kemudian mengalirlah cerita seputar hal itu yang membuatku bergidik. “Aku dulu punya teman, dia basic-nya bukan di 3D, tapi dia selalu belajar tentang itu. Sekarang kerjaan dia ya seputar itu, di Jakarta dia ngerjain apapun yang ada kaitannya sama 3D. Tebak berapa pendapatan dia untuk tiap proyek?”

“Ayo tingkatkan. Kamu pasti bisa. Aku aja bisa, kamu juga pasti bisa.”

Tiada bosan-bosannya tim kecil ini mengingatkan dan mensupportku. Satu bulan dan hampir tiap pekan pasti ada lontaran-lontaran semangat itu. Mungkin memang suasana ini yang selama ini kucari, dan pencarian panjangku akhirnya mendamparkanku di sini. Ketika senior bersedia membimbing juniornya, dan pimpinan memberikan kesempatan belajar dari NOL. Syarat yang kutemukan tersirat: sadar diri untuk senantiasa belajar.

Aku pun takjub dengan diriku sendiri. Semula aku keukeuh masih ingin bekerja dengan caraku sendiri, sebisaku sendiri. Dan mereka bilang, “Iya, gapapa.” Tapi tanpa sadar, mereka pun mulai meracuniku, mengiming-imingiku, dan tak henti-hentinya mengingatkanku untuk mempelajari cara yang baru (yang semula terpatri rumit di alam pikirku). Tapi pada akhirnya aku terjebak dengan cara mereka bekerja. Bertolak dari titik belakang, aku belajar, dan mereka bilang, “Nanti kalau sudah tahu caranya, kelebihannya, kamu pasti akan penasaran dan ketagihan.” And it works. Sekarang aku malu sekali melihat gambar pertamaku yang kuajukan ke pimpinan. Cita rasa gambar itu kini tampak begitu berbeda.
Banyak pilihan dalam hidup. Jika aku memilih salah satu, aku akan bertahan pada satu pilihan itu. Kecuali waktu akan menjebakku ke dalam pilihan lain. Dan setiap hal yang terpilih itu tetap ada konsekuensinya. Lalu jangan memaksaku untuk sempurna dalam dua hal sekaligus.”
“Kamu tidak akan pernah mendapatkan tempat lain dengan solidaritas seperti di sini. Yakin deh.”

Kata-kata yang tercetus beberapa hari di awal aku masuk kantor, mendadak tak henti-hentinya kurapal. Pasalnya belum sebulan aku mengenal mereka, tetapi tiba-tiba mereka hadir kemarin saat rumah kami berduka. The true solidarity. Tidak hanya perkara profesi yang menjadi bahan pembelajaran namun juga sosial. Aku yakin betul di kantor bukannya tidak ada pekerjaan yang menanti untuk segera diselesaikan. Tetapi, ya itulah...mereka.

:)

Minggu, 01 September 2013

Warisan dan Profesi

Apa jadinya ketika tiba-tiba kita mendapatkan warisan yang rupanya jauh berbeda dengan ekspetasi kita pribadi dan kemudian tak bisa dikompromikan dengan profesi kita? Tiba-tiba saja pertanyaan itu menggeliat muncul ke permukaan otak. Hasilnya, mengingatkanku pada Madre-nya Dee yang berkisah mengenai sosok Tansen, seorang blogger dan peselancar di Bali yang menyenangi kebebasan hidup. Ia dipanggil ke Jakarta untuk menerima warisan berupa biang roti berusia puluhan tahun dari orang yang tidak pernah dikenalnya. Peselancar dan roti adalah hal yang sangat bertolak belakang bukan?


“Ini tempat duduk, meja, dan komputer kamu nanti ya,” kurang lebih begitu yang diucapkan manajer tim perencanaan dan perancangan yang juga seniorku di kantor awal pekan kemarin

Sebelumnya, ia telah memperkenalkanku juga kepada teman di meja sebelah kananku yang belum pernah berganti. Namanya Pak Oding, yang menjabat kepala bagian alias salah satu manajer juga. Sementara di meja sebelah kiriku belum ada penghuni tetap, konon masih dicari. Jadilah silih berganti orang yang singgah di situ.

Kerap kali aku melirik ke komputer beliau jika tengah penat. Seringnya mendapati tabel-tabel berjajajar rapi dengan barisan angka-angka bersarang di tiap kotaknya. Tapi beberapa kali kulihatnya membuka dokumen berisi garis yang membentuk bidang, dan berikutnya bidang yang membentuk ruang. Bilah-bilah pekerjaan yang sangat akrab dengan apa yang kuhadapi setiap hari.

“Itu bikin sendiri, Pak?” tanyaku iseng.

“Iya, untuk hiburan Mbak. Dulu saya belajar seperti ini dari Mas Endro, kalau Mas Endro sedang luang, saya sedikit-sedikit minta diajarin. Ya senang juga ketika akhirnya bisa bikin kusen atau kursi pakai ini,” katanya sumringah. Mas Endro adalah mantan seniorku yang telah keluar dan kini kugantikan memegang komputernya. Dari sedikit percakapan harian atas kata yang tak pernah bosan beliau ucapkan, “Belajar ini lah, kita harus kreatif sekarang, di kantor begini, nanti di rumah juga harus ada hal yang dilakukan.” Mungkin kata-kata tersebut pula yang menjadi salah satu mood-booster-ku kembali menulis di ruang ini. Dan mungkin suatu saat nanti saya juga musti belajar menata angka dan dokumen dari sosok Pak Oding ya? 

Dari beliau pula akhirnya aku menemukankembali terminologi yang sempat lama mengendap di dasar pikiran. Long life learning. Belajar sepanjang hayat, belajar tidak mengenal usia, belajar dari ayunan sampai liang lahat, atau belajar hingga ke negeri Cina. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, dari siapapun dan dari manapun. Itu pula yang tempo hari sedikit disinggung dalam kajian pekanan di lobi kantor. Kata ustadz, belajar itu tidak hanya harus dengan niat. Tetapi juga harus titḕn, telatḕn, dan opḕn. Titḕn merujuk pada definisi bahwa sebagai pembelajar harus teliti memunguti hal-hal yang kecil dan sering diabaikan orang. Telatḕn dapat diterjemahkan dengan rajin dan tidak pernah bosan, juga tidak mudah menyerah. Sementara itu opḕn berarti mampu merawat hal-hal kecil yang telah dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan semangat berlebih.

Lain waktu saat aku merasa kesulitan dengan suatu hal yang belum mampu kupecahkan dan tim juga belum menemukan solusi selain tebakan-tebakan mungkin ini-itu, akhirnya solusi yang muncul adalah, “Coba bertanya kepada teman-temanmu di ibukota itu. Mereka seharusnya punya jawabannya.” And it works. Belajar tidak memerlukan sekat ruang dan waktu ketika tiba pada titik aku bisa belajar jarak jauh dengan teman-teman yang terpisah ratusan kilometer.


Kembali kepada Madre, warisan dan profesi mungkin akan menjadi dua bagian yang sulit berkorelasi. Tetapi bila mengenal leluhur dan mencermati silsilah, tebakan-tebakan itu bisa jadi akan muncul dan mulai bisa mengira-ngira apa yang akan diperbuat dengan hal itu kelak. Lalu apa yang akan dilakukan dengan dua sisi yang tidak bertalian itu? Jawabannya mungkin hanya dua: mulai mempelajari hal itu sedari awal atau mencoba mencari-cari cara untuk membuat simpul.

Selasa, 22 Januari 2013

A Half Hour with Ahmad Djuhara



Some Quotes:
Jadi dia mau mengambil resiko untuk bereksperimen, bereksplorasi, dalam bentuk-bentuk yang baru. Itu adalah inti dari perkembangan arsitektur dimanapun. Dia bisa aja  bikin desain yang biasa-biasa aja, tetapi dia tidak membawa perubahan apa-apa, menyumbangkan apa-apa, berkontribusi apa-apa terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia. Dan dia berani mengambil resiko, dia akan membawa orang, mengajak orang ke level yang lain. Itu kayak estafet atau kayak memberi tangga kepada orang lain untuk ke level berikutnya. Jadi itu sangat lazim di dunia arsitektur, apalagi kita punya blog, atau buku yang sangat tersebar di seluruh dunia. Ketika kita melihat karya orang lain yang bagus maka kita terinspirasi. Intinya itu. Dia bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Bahwa yang konvensional itu benar, tapi bukan itu satu-satunya kebenaran. Kebenaran itu bahkan bisa dicapai, dieksplorasi, dengan mencoba bentuk-bentuk yang baru, yang ekstrim, yang mungkin secara umum, secara orang awam, kita menganggap itu salah. Padahal mungkin bukan salah. Mungkin malah kita bilang sebetulnya yang diyakini banyak orang itu tidak sepenuhnya benar. Itu menjadi sangat menarik buat arsitektur.

Orang-orang yang mau mengambil resiko ini adalah  para perintis. Para perintis itu selalu penting dalam sebuah perkembangan. Ada yang di depan itu, yang untuk menjadi lebih baik itu Anda harus berani berubah. Untuk berani berubah, biasanya kita bisa lihat para perintis ini, yang mau mengambil resiko untuk berubah, tidak mengikuti langgam yang sebelumnya. 

Bentuk itu mengarahkan kita kepada kebiasaan tertentu. 

Kalau saya punya klien yang punya tanah sekecil atau sebesar apapun, saya dibebani tanggung jawab untuk bisa mendayagunakan semua titik di tanah itu menjadi fungsional, dipakai, tidak mubadzir, bahkan kalau bisa photogenic, jadi cantik, indah, punya kualitas arsitektural yang baik, bagus.

Otak manusia itu selalu bisa menjadi lebih baik. Percaya nggak bahwa ada sebuah keadaan ideal salah satu negara, Andora misalnya, kecil, baik banget. Atau Swiss, ideal sekali, dia menjadi kualitas-kualitas lebih baik lagi, bisa. Seluruh Indonesia bisa gitu nggak? Bisaa… Nggak ada yang nggak mungkin.

Sebagai sebuah ide, kita percaya nggak, bahwa kita bisa menjadi lebih baik besok. Itu alam pikir positivism kalau nggak kamu negativistik. Kamu nggak percaya bahwa besok lebih baik, mati aja hari ini mendingan. Percaya bahwa besok menjadi lebih baik, maka yang jauh lebih baik dari sekarang itu mungkin terjadi.

Lihat bangsa Belanda, Belanda modern ya, mereka banyak sekali melakukan eksperimen di pameran-pameran arsitekturnya. 25 tahun lagi cara hidup kita kayak gini. Itu mereka lakukan lima tahun yang lalu. Lima tahun berikutnya, eksperimen mereka tentang 25 tahun ke depan terjadi lebih cepet. Lima tahun setelahnya. Jadi percepatan itu ada dengan syarat-syarat, nggak ada yang nggak mungkin. 

Kamis, 08 November 2012

Pekan Seni Tradisi dan Produk Kreatif Nusantara 2012

Welcome Gate
Rabu (31/10) rupanya menjadi hari terakhir gelaran pesta nusantara tahun ini di Jogja Expo Center yang bertajuk Pekan Seni Tradisi dan Produk Kreatif Nusantara 2012. Beragam produk kerajinan lokal Indonesia dipamerkan pada even ini dengan ciri khas masing-masing. Saya merasa beruntung dapat hadir walaupun lokasi sudah sepi, beberapa stand sudah kosong, dan kerajinan yang kemarin sempat dikisahkan kawan telah lenyap.

Peta Petunjuk
Apabila menilik peta petunjuk di atas, ternyata partisipan dalam agenda DIY kali ini sangat beragam. Mulai dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan beberapa propinsi di nusantara, Dinas Paiwisata, perusahaan industri makanan dan minuman, perusahaan penerbitan dan media, perajin tekstil dan aksesoris, perajin kulit, perajin kaca dan metal, permbuat lukisan pasir, fotografer, independen kreatif, hingga komunitas seni dan budaya. Saya membayangkan pasti di hari-hari pertengahan, suasana di tempat ini begitu meriah.

Membuat Wayang
Salah satu stand yang saya kunjungi adalah stand yang memamerkan kerajinan dari kulit berikut tahapan proses produksinya. Kulit yang telah digunting sesuai pola, kemudian ditatah dengan detail mengikuti garis pola. Tidak hanya wayang, perajin kulit ini juga memproduksi gantungan kunci, kipas, hiasan dinding, dan pembatas buku. Semuanya dari kulit.

Stand Furniture | some of them are unique :)
Melintasi jajaran furnitur-furnitur dari kayu, mengamati lekuk-lekuk ukiran dan desainnya. Semua terasa alami sekali, khas kampung, tradisional nusantara, lokalitas. 

Angkringan Jogja Papercraft
Dan pesona terakhir saya tertambat di stand ini, prototype angkringan, tugu jogja, dan bermacam aktivitas lain diwujudkan dengan media papercraft yang sangat detail dan begitu nyata. 

Rempah-Rempah
Tepat sebelum menjejakkan langkah menuju pintu keluar, ada magnet yang menarik saya dan kawan untuk masuk ke stand Intra Food yang kebetulan lokasi produksinya di kota yang sangat akrab bagi kami. Sejenak duduk di kursi stand, memandangi serius wadah berisi beberapa macam rempah-rempah.

"Tebak, apa saja nama rempah-rempah itu?" kata penjaga stand tiba-tiba.
"Kayu manis, jahe, kencur, cabe, pala, cengkeh ..." masih kurang tiga dan saya sudah tidak memiliki ide apapun untuk menebaknya.
"Itu adalah bla bla bla ..." lanjut penjaga stand, dan kini saya lupa apa yang disebutkannya tentang ketiga rempah itu.

:D

Kamis, 05 Januari 2012

Tabir Harapan Bagi Mereka di Ujung Negeri


Pada sepenggalah pagi ini saya belum selesai merapal cerita-cerita yang terhimpun dalam buku Indonesia Mengajar. Namun bulir-bulir kristal sudah mengembun di sudut-sudut kelopak mata.

Bukan tanpa sebab, saya merasa terenyuh dengan kondisi keseharian mereka, para penduduk pulau-pulau terpencil nan terpelosok itu. Transportasi yang minim, sumber mata air yang memutar bukit, listrik yang belum tersedia, hingga kondisi pendidikan itu sendiri yang turut terpencil sekaligus terkucilkan. Memang, pernyataan di atas tidak lantas harus dipukul rata pada semua daerah terpencil itu karena ada daerah-daerah yang belum ada listrik namun air berlimpah. Transportasi yang minim namun sumber mata air mudah didapat. Ya, tiap daerah memiliki kelebihan dan kekurangan –jika perbandingannya adalah ranah-ranah sejenis dan bukan kota-kota.
“Masyarakat yang dekat dengan pusat kemajuan, katakanlah masyarakat Pulau Jawa, memandang Sulawesi Barat hanya sejauh dua jam perjalanan dengan pesawat. Namun, Pulau Jawa di mata masyarakat Sulawesi Barat adalah suatu tempat di negeri antah berantah. Sungguh jauh. Apalagi bertemu dengan Wakil Presiden, membayangkan saja tidak.” (hlm. 107)
Saya kemudian tersadar bahwa saya tengah berada pada zona yang sangat nyaman. Transportasi di Pulau Jawa sangat mudah didapatkan –baik secara bendawi maupun sarana jalan raya yang “lebih” memadai, tetapi mengapa kadangkala harus mengeluh saat menjumpai begitu banyak polisi tidur, terperangkap kemacetan, atau sekadar tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Sebagian mereka di pelosok, bermimpi bersepeda saja mungkin tercekat di bibir benak, mengingat jalanan yang masih tidak memungkinkan untuk dilalui –yang ketika hujan, kadangkala menjadi becek, licin, atau bahkan banjir.

Keberadaan sarana yang lain pun begitu. Listrik, betapa terkadang saya begitu dongkol saat perusahaan listrik tiba-tiba memadamkannya. Sementara sebagian dari mereka baru bisa menikmati listrik genset saat jarum jam telah menunjuk angka sembilan malam. Sarana komunikasi, betapa saya dengan mudahnya dapat berkomunikasi dengan kawan-kawan lintas kota bahkan negara dan benua. Sementara sebagian dari mereka harus hidup terpisah dengan orang tua yang hanya bisa dikunjungi dengan kapal motor selama dua jam perjalanan yang hanya beroperasi dua kali sepekan.

Namun di balik keterbatasan itu banyak kejutan-kejutan yang menakjubkan. Anak-anak itu seperti mutiara yang tertabiri. Bila mereka mendapatkan kesempatan yang memadai untuk mengembangkan minat dan bakat, bukan hal mustahil mereka akan menjadi kebanggaan bangsa. Mereka cerdas, mereka pintar, tetapi mereka belum tersentuh.
“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.” (Anies Baswedan, hlm. xv)
Ini adalah sebuah pilihan.

PS: tiba-tiba tercetus jika transmigrasi digalakkan kembali, tetapi bukan memindahkan masyarakat tak mampu, justru mentransmigrasikan para sarjana, para orang-orang sukses, para orang yang bisa menjadi cermin masyarakat di sekitarnya. orang-orang yang bisa mensugesti masyarakat setempat, agar harkat hidup dan martabatnya terangkat. :)

Kamis, 04 Agustus 2011

Ketika Berpikir Nanti dan Nanti Masih Ada Waktu

sejenak saya membuka kembali akun facebook yang telah ter-deaktivasi beberapa pekan lalu. sebenarnya saya tidak merindu padanya, tetapi lebih karena saya membutuhkan catatan yang pernah saya tulis pada akhir tahun 2009. menyusuri berpuluh catatan itu memang tak mudah, hingga kemudian mata saya tertumbuk pada catatan dengan judul di atas. here it is...

Ambillah waktu untuk berfikir, ini adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, ini adalah waduk kemudaan yang abadi.
Ambillah waktu untuk membaca, ini adalah dasar kebajikan.
Ambillah waktu untuk berdoa, ini adalah kekuatan terbesar di bumi.
Ambillah waktu untuk mengasihi dan dikasihi, iman adalah kasih sayang dan bukan kebencian.
Ambillah waktu untuk menjalin persaudaraan, ini adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk bergurau, ini adalah pelumas yang terbaik.
Ambillah waktu untuk bershadaqah, hidup ini terlalu singkat untuk menjadi egois.
Ambillah waktu untuk bekerja, waktu adalah harga keberhasilan.
-Salim Akhukum Fillah-

“Ufh...nanti sajalah kukerjakan. Nanti juga masih ada waktu. Deadline masih sepekan lagi kok.”
Seberapa sering kata itu terucap dari bibir ini? Ketika waktu yang ada dibiarkan berlalu begitu saja padahal banyak hal yang dapat dikerjakan, banyak target yang bisa selangkah diraih, banyak hal kecil yang bermanfaat yang bisa disisipkan pada sedikit waktu itu.

Enam hari kemudian...
“Hah? Besok deadline! Grudak! Gruduk! Gubrak! Brak, brak, brak!”
Keringat dingin bercucuran. Tangan gemetar. Pikiran begitu tegangnya. Lalu hasilnya? Bisa kupastikan tak maksimal. Dan di hati terdalam akan berkata lesu, “Andai kukerjakan kemarin-kemarin...”
Waktu tak dapat diputar lagi, kawan. Jika ia berlalu maka sudahlah ia berlalu. Seberapa keras berteriak memanggilnya, tak akan jua ia kembali. Waktu tak punya telinga. Ia hanya punya kaki yang kuat, yang bisa membawanya berlari kencang meninggalkan semuanya. Ia tak akan pedulikan lagi siapapun yang tak mempedulikannya. Jika kau peduli pada waktu, maka ia juga akan peduli padamu meski tak kau sadari.

Waktu. Keabstrakan yang terejawantah dalam lima huruf itu sesungguhnya sangat berharga. Ia bagaikan emas. Tak salah jika kemudian Sean Covey berkata:
Untuk tahu nilai satu tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kenaikan.
Untuk tahu nilai satu bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk tahu nilai satu minggu, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Untuk tahu nilai satu hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.
Untuk tahu nilai satu jam, tanyakan pada kekasih yang menanti saat bertemu.
Untuk tahu nilai satu menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Untuk tahu nilai satu detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
Untuk tahu nilai satu milidetik, tanyakan pada peraih medali emas olympiade.

Dan pada akhirnya...
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
-QS Al ‘Asr (103): 1-3-

*)sepotong pikiran ketika matahari naik sepenggalah. mengingat waktu yang tlah berlalu namun tak jua ku melangkah.

Solo, 02 Januari 2010
09:22am
pagiku hilang sudah melayang...

Selasa, 12 Juli 2011

Bye Bye Facebook

picture by auliavy

lepas dari keseharian kumasuki sisi hidup yang lain. pada mulanya sempat meragu aku tetapi kesadaran tentang jalan yang tak mesti selalu lempeng mengantarku sampai pada pengertian bahwa pencarian setiap orang senantiasa dalam warna berbeda. (Toto ST Radik)

Firstly I wanna say, “I’m sorry, Mark Zuckenberg…”

Ini adalah sebuah pergulatan batin yang berat. Di sana saya menemukan salah satu jendela dunia. Tetapi terkadang memang ada hal-hal yang harus dimenangkan dan dikalahkan meskipun itu sama-sama penting, seperti kata dosen pembimbing studio perancangan 7 satu semester yang lalu. Kini, ada hal-hal yang tidak bisa saya tolerir bagi diri saya lagi. Kehidupan di ruang maya bernama Facebook bagi saya –dalam akun pribadi saya tentunya—sudah tidak sehat lagi. Terlalu banyak permainan yang melibatkan berbagai intrik dan taktik. Dunia maya dan dunia nyata memang berbeda, dan pada akhirnya menurut saya kepercayaan yang dimunculkan melalui situs jejaring sosial ini bukanlah kepercayaan yang dapat dipercaya.

Jejaring sosial itu hanya tempat untuk sekedar melampiaskan pikiran-pikiran yang tak tersampaikan, ruang untuk melampiaskan emosi yang tak tersalurkan demi mengejar eksistensi pribadi. Saya bukan selebritas yang mengejar popularitas. Efektifitas publisitas dan pengkaryaan diri melalui fitur foto dan catatan saya akui dengan dua acungan jempol. Tapi kedua hal tersebut kini harus dikalahkan dulu. Saya memutuskan menarik diri dari publik maya, meninggalkan hingar bingar dunia dengan menonaktifkan akun pribadi saya dalam jangka waktu yang tidak pasti. Mungkin selamanya, mungkin akan banyak kerinduan dengan situs itu…

Sudah saatnya saya mencari ruang yang lain lagi untuk aktivitas beravontur di dunia maya. Saya banyak terinspirasi oleh catatan-catatan sederhana kakak tingkat saya, Mbak Sekar, melalui blognya “ladder to the sun”. My Philately dan Postcrossing adalah dua laman yang ingin saya jelajahi setelah saya membaca salah satu postingan di ladder to the sun. Sebelumnya saya sempat mendaftar di akun Flickr dan Goodreads meskipun belum terlalu aktif di kedua laman tersebut. Saya pikir keempat situs tersebut akan sangat mewakili dan menjadi sarana pelampiasan saya yang lebih efektif.

Sekian tahun saya menjalani hobi yang diwariskan ibu sebagai kolektor perangko. Kemudian iseng saya mulai pula mengumpulkan kartu-kartu pos. Hobi ini memang langka di masa ini, di tengah kemodernan teknologi yang kian menggila. Tetapi saya masih menyukainya. Fotografi dan membaca juga merupakan komponen yang cukup penting dalam perjalanan hidup saya. Saya suka fotografi kesunyian dimana objek yang dibidik adalah objek tanpa model bernama manusia. Kalaupun ada manusia, sebatas dalam batas naturalisme saja. Dan tentunya saya mencintai membaca. Membaca apa saja. Karena saya tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca, dan sebaliknya.

Akhirnya laman yang akan sangat sering saya kunjungi kemudian adalah laman ini. Di mana saya tidak lagi memerlukan pengakuan, apresiasi, dan popularitas atas tulisan-tulisan saya dengan cara ‘memaksa’ (tagging—istilah yang saya maksud) untuk sebuah eksistensi. Biarlah segala sesuatunya berjalan apa adanya. Semoga ini merupakan cara saya untuk lebih mendewasakan diri. =)

Sleman, 12 Juli 2011 09:00

Sabtu, 02 Juli 2011

Solo Batik Carnival (Juni 2011)

foto foto tanpa catatan. karena catatan tertinggal. tanpa deskripsi dan editing. karena terburu-buru. SIPA i'm comiiiiing!










putri indonesia

dunno why, but i like this one. totally exspression. =D

pasca pawai usai... plaza kembali menjadi jalan raya

Jumat, 20 Mei 2011

Hotel Anti Kiamat?

Sebenarnya saya hanya penasaran dengan pesan singkat teman semasa masih di bangku sekolah menengah atas. Dia bercerita tentang hotel anti kiamat di Moskow, Rusia. Iseng kemudian googling deh...
Hotel ini merupakan hotel anti kiamat yang pertama di dunia. Hotel ini memiliki disain menyerupai kerang. Selain itu, struktur bawah tanahnya berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Strukturnya tahan gempa dan dapat mengapung di perairan luas seperti laut, sehingga terlindung dari luapan air atau banjir. Hotel ini pun bisa berdiri di daerah berbahaya. Hotel raksasa yang mengambang ini diklaim juga sebagai ‘biosfer’, surga yang nyaman bagi para penghuninya, bahkan saat bencana sekalipun.

Pernah dengar kisah Nabi Nuh? yang membuat kapal selamat dari banjir besar yang terjadi di seluruh dunia? Dan inilah wujud modern dari ide kapal Nabi Nuh itu. Tapi, ini baru rancangan saja. Pemilik dari desain hotel ini masih menunggu investor yang mau mewujudkan impian hotel anti kiamat ini menjadi kenyataan .

Menghadapi anacaman Global Warming atau yang sering kita sebut dengan pemanasan global, saat ketinggian air naik menenggelamkan seluruh planet Bumi, inilah ide untuk menyelamatkan diri. Inspirasi ini pertama kali dikemukakan oleh perusahan arsitektur, Rusia, Remistudio.

Dalam program arsitektur penanggulangan bencana International Union of Architects, Remistudio merancang sebuah hotel yang bisa berperan sebagai bahtera penyelamat, kalau-kalau bencana dahsyat terjadi. Namanya, Ark Hotel. Bisa didirikan di laut atau pun di darat.

Konsep yang ramah lingkungan serta mendukung adanya udara di dalam horel ini . Setidaknya seperti dikutip oleh perusahan arsitek Rusia itu. Desain hotel futuristik ini menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan, menjamin ketersediaan energi, juga air bagi para penghuninya. Menikmati aurora borealis. Lingkungan yang mirip rumah kaca juga memungkinkan tanaman tumbuh subur, membantu meningkatkan kualitas udara dan juga menyediakan makanan.

Selain itu, strukturnya yang tembus pandang membuatnya hemat energi di siang hari. Cukup memanfaatkan energi matahari. Untuk memastikan kualitas cahaya, bingkai kaca dilengkapi pembersih otomatis. Menurut Alexander Remizov dari Remistudio, ada dua pertimbangan utama dalam desain ini.

Seperti dapat dilihat di gambar. Kira-kira inilah contoh hotel anti kiamat yang pertama di dunia itu . “Pertama, meningkatkan pengamanan dan pencegahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan perubahan iklim. Yang kedua adalah melindungi lingkungan alam dari aktivitas manusia,” kata dia, seperti dimuat Daily Mail. Inilah penyebab bintang tampak berkedip.Bahtera ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan lingkungan global saat ini. Juga untuk mendukung sistem pertahanan hidup.

“Semua tanaman dipilih yang sesuai, efisiensi pencahayaan, dan produksi oksigen. Juga bertujuan untuk menciptakan ruang yang menarik dan nyaman,” kata dia. Remizov menambahkan, atap hotel yang transparan menjamin ada cukup cahaya bagi tanaman dan untuk menerangi interior.

Perancangnya mengklaim, Ark Hotel bisa didirikan hanya dalam waktu beberapa bulan di seluruh bagian dunia. “Bagian-bagiannya bisa disatukan dalam waktu tiga sampai empat bulan,” kata Remizov.

Kiamat memang tidak bisa kita hindari sebagai orang yang beragama . Lepas apakah kita bisa mkenyelamatkan diri atau tidak dari kiamat, konsep ini sangat bermanfaat untuk menanggulangi masalah gempa dan pemanasan global yang mengakibatkan banjirnya seluruh dunia.

dikutip dari sini dengan beberapa perbaikan tata bahasa

Senin, 16 Mei 2011

Ingin Berkarya Hingga Nafas Terakhir



Keyakinan ini masih tidak akan goyah.
karena aku tidak boleh mudah goyah.

Maka...

This is what i'm...

"Bagi seorang arsitek, sarana publikasinya adalah karyanya itu sendiri."
Baskoro Tedjo


PS: terimakasih atas kepercayaannya... i'll do my best...=)

seperti halnya yang didengung-dengungkan para penulis profesional: mari menulis, agar kelak saat menutup nafas, ada jejak yang kita tinggalkan. agar tak sekedar nama yang kita tinggalkan untuk dunia.

dan itu tidak hanya berlaku bagi penulis kan? arsitek juga kan? =)

Puncak Suroloyo, Perjuangan Menaklukkan Diri Sendiri

Yogyakarta, 15 Mei 2011

Pagi itu perjalanan menuju Puncak Suroloyo dimulai. Puncak ini berada di kawasan Kalibawang, Kulon Progo; termasuk pada deretan Pegunungan Menoreh. Pegunungan Menoreh biasanya hanya bisa kulihat di kejauhan dari jalan meuju istana ayah ibuku.

Tapi kali ini keyakinan ini lebih kuat. Aku ingin menaklukkan diriku untuk mencapai puncak itu. Well, jalan yang kulalui merupakan medan yang benar-benar berbeda. Meskipun sudah berulang kali aku pergi ke tanah-tanah ketinggian, aku masih merasa medan ini benar-benar tidak biasa. Tidak seperti medan ke kawasan Candi Sukuh-Cetho di lereng Lawu yang menurutku adalah medan paling terjal pada waktu sebelumnya. Pun tidak seperti medan menuju Desa Segoro Gunung, dimana aku dan kawan-kawan BEM FT UNS pernah mengadakan upgrading. Tidak pula seperti Cemoro Sewu, salah satu titik awal pendakian Lawu atau kawasan Ketep-Kedungkayang di Magelang.

Medan ini benar-benar menantang! Jalanan sempit, hanya cukup dilalui dua mobil yang berjalan pelan-pelan (sudah ditambah "trotoar" jalannya). Kanan kiri jurang menganga seakan siap melahap apa-apa yang melintas di lehernya. Suasana sepi, kanan kiri kebanyakan ladang dengan rumah-rumah yang jaraknya jarang. Beberapa tebing sempat longsor, hingga jalanan menjadi licin dan harus turun dari kendaraan (terimakasih bapak yang udah nolong menyelamatkan dari licinnya jalan bekas longsor =)). Beberapa jalan juga ditutup karena tanah yang longsor belum disingkirkan. Mmm... jalan kecil itu juga banyak yang berlubang disana-sini. Kerikil-kerikil aspal sudah terlepas, kalau tidak hati-hati... entahlah akibatnya. Yang tak terlupakan adalah penduduk yang ramah-ramah. =)

Adrenalin benar-benar terpacu. Napas tertahan. Hembusan napas jadi terasa lebih teratur. Mungkin inilah yang kurasakan saat menuju tanah-tanah yang tinggi: berlatih menahan emosi, mengatur diri pribadi, memanajemen empat nafsu yang dimiliki makhluk bernama manusia.

Perjuangan itu akhirnya menemui titik akhirnya. Tanah-tanah yang tinggi benar-benar menunjukkan kekuasannya. Bahwa manusia bukanlah apa-apa. Bahwa perjuangan itu tidaklah bersifat instan, semua ada prosesnya.

Haruskah kita menyerah begitu saja? Itu yang kupikirkan saat menaiki tangga meuju gardu pandang tertinggi, yang (kuhitung) berjumlah 290 buah anak tangga. Tidak, menyerah bukanlah solusi terbaik. Rehat sejenak bolehlah, tapi menyerah? Menasbihkan diri untuk jadi pecundang?

290 anak tangga menuju puncak tertinggi

Aku tidak bisa melukiskan apa-apa yang kurasakan saat berada di tanah yang tinggi itu. Satu kata: subhanallah...

sayangnya kamera tidak sehat dan kabut terus menerus menyaput pandangan

"menempuh perjalanan, menyepuh perjuangan, menggapai tanah-tanah yang tinggi adalah salah satu bentuk menempa diri"

salah satu gardu pandang dari empat gardu pandang di empat puncak

Oh ya, satu lagi yang mungkin bisa menambah kosakata wawasan kita: di puncak ini terdapat tugu batas antara DIY dan Jateng...

tugu batas DIY-Jateng


Sleman, 16 Mei 2011
menantikan petualangan selanjutnya...=)

::writing without editing::