Selasa, 16 Juli 2013

Jakarta #3: Seperti Orang Hilang


Petualangan pagi pertama saya di ibukota dimulai dengan sambutan semburat cahaya matahari. Tidak ada lagi kokok ayam yang saling bersahutan atau tetes-tetes embun yang masih menempel di muka daun. Sepanjang pandang mata hanya bangunan-bangunan rapat hingga hanya tersisa sedikit lahan untuk tempat bertumbuh pohon hijau. Kendaraan pun mulai ramai berjalan pelan, terlalu sulit untuk saling menyalip.

Ini adalah kisah yang paling resah dan paling ingin kusembunyikan, gejolak-gejolak yang mampu menggoyahkan langkah dan membuat menyerah. Sebelum mendapatkan tempat tinggal sementara di Jakarta, saya memutuskan transit sejenak. Di mana? Keputusan terakhir yang saya ambil, di kost temannya teman saya. Cukup asing sebenarnya karena kami belum pernah sekalipun bertemu. Saya hanya mengandalkan apa yang namanya trust (mungkin).

Rasa segan mendadak hadir saat saya tiba di sana lebih pagi dari waktu yang diperkirakan. Saya tiba pukul enam pagi. Menjumpainya untuk pertama kali, dan rehat sejenak. Sebelum akhirnya saya terbangun dan merasa terlalu siang untuk berputar ke lokasi calon tempat tinggal saya di rantau yang sebenarnya. Jujur, kecewa kepada diri sendiri. Apa yang sudah dimulai, harus segera diselesaikan. Bergegas saya berangkat untuk petualangan perdana di belantara ibukota.

Dengan berbekal peta hasil mencetak dari sebuah situs di internet, saya nekat. Sendirian? Ya. Saya naik angkot putih dengan kode C9 kalau tidak salah ingat, jurusan mana, saya pun lupa. Benar-benar buta arah. Hingga akhirnya saya dioper ke angkot berwarna biru muda yang kemudian saya tahu itu menguasai rute Ciputat-Pasar Jumat-Kebayoran. Seturunnya dari armada itu, hujan mendadak turun deras sekali. Beruntung “pemandu” dadakan saya, seorang anak kecil yang saya temui di angkot tadi memilih pemberhentian di halte. Dan itu berarti saya sudah sedikit lebih dekat dengan destinasi.

Halte itu ramai. Tapi saya merasa sendirian, sepi. Ingin menangis seiring jatuhnya limpahan air dari langit. Apakah saya akan semudah itu menyerah? Hingga jarum jam bergeser dari angka dua belas, hujan tak jua reda. Lalu sampai jam berapa kah saya harus bertahan ‘tak bergerak’ di sini. Seakan selama beberapa waktu itu saya hanya menghitung tik tok detik sang waktu. Cemas, khawatir, takut, senyap jadi satu.

Begitu jarum jam mulai bergeser menjauhi angka satu...
Syukur, hujan mereda. Saya dan anak kecil itu pun berpisah dan belum bertemu kembali. Saya langkahkan kaki, usai menanyakan kembali arah menuju destinasi saya. Sempat terdapat simpang siurnya informasi. Ternyata orang setempat pun tak begitu familiar dengan daerahnya sendiri. Selamat datang di angkot merah KWK 08. The most favourite angkot then. Dengan angkot itu akhirnya saya menemukan destinasi saya.

Dan perjalanan belum usai, kawan. Kemana saya akan mencari tempat tinggal sementara. Ask someone who you believe! Dari sana saya mengenal bapak penjual mollen di depan kantor yang ternyata asli Jawa Tengah, logat ngapak-ngapak seketika kental. Lalu mbak penjual nasi yang asli Pemalang, akhirnya menjadi tetangga selama sebulan pertama di Jakarta. Dan tak lupa bapak penjaja bubur ayam yang juga orang Jawa Tengah, yang begitu baik hati. Tahukah kamu, ada kebahagiaan tersendiri saat kita merantau, lalu di rantau itu bertemu dengan sosok-sosok dari daerah yang hampir sama. Paling tidak memiliki bahasa ibu yang tipikal.

Baiklah, setelah dalam gerimis menjelang sore yang akan sangat dramatis jika diabadikan saya berputar-putar dari satu gang ke gang yang lain: saya mendapat tempat tinggal sementara. Paling tidak saya sudah menyelesaikan tantangan itu. Meski tidak well-done. Meski saya pulang kembali ke tempat transit pun diiringi dengan hujan yang kian deras mengganas. Payung pun tak kuasa menahan hempasan air, alih-alih justru terbawa angin.

At last: akhirnya malam harinya kami, saya dan teman baru saya, crash. Rasanya tak perlu saya ceritakan kawan. Saya tidak tega kamu mendengarnya. Benar jika malam itu kamu mengira saya menangis, tapi itu tangis kebahagiaan dan kesedihan, kawan. :)

PS: thanks and sorry for whoever include in this journal, please don’t mind, you’ve made me better and stronger.

2 komentar:

  1. jakarta oh jakarta... :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah metropolis mininya indonesia itu :)

      Hapus